SUARAINDONEWS.COM, Malang – Kalau biasanya rompi cuma dipakai untuk berkendara atau bergaya, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) punya ide yang jauh lebih futuristik.
Mereka mengembangkan ADAPT-V, sebuah rompi pintar yang dirancang untuk membantu mendeteksi tanda-tanda stres yang berpotensi memicu tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Yang bikin teknologi ini menarik, rompi tersebut bukan cuma “diam dan nempel” di badan. ADAPT-V dibekali sensor, kecerdasan buatan atau AI, serta teknologi Internet of Things (IoT) untuk membaca kondisi anak secara real-time.
Ketika sistem mendeteksi pola yang mengarah pada kondisi distress, rompi dirancang dapat memberikan tekanan terkontrol melalui metode Deep Pressure Therapy (DPT).
Sederhananya, rompi ini mencoba memberikan sensasi seperti pelukan, tetapi versi teknologi.
Jadi bukan ibu yang harus selalu berkata, “Sini dipeluk dulu,” melainkan rompinya yang mencoba memberikan tekanan secara otomatis ketika sistem membaca kondisi tertentu.
Namun jangan salah paham dulu. ADAPT-V bukan berarti sudah menjadi “rompi anti-tantrum” yang bisa menjamin anak tidak akan tantrum.
Teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pengujian untuk memastikan keamanan, akurasi serta kenyamanannya sebelum digunakan secara lebih luas.
Dibekali Sensor dan AI
ADAPT-V menggabungkan sejumlah teknologi untuk membaca kondisi pengguna.
Sistemnya memanfaatkan sensor fisiologis dan sensor gerak. Salah satunya MAX30102 yang digunakan untuk membaca denyut nadi, serta MPU6050 untuk mendeteksi pola gerakan tubuh.
Data dari sensor kemudian diproses menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk membantu mengenali pola yang berkaitan dengan kondisi distress atau tantrum.
Dengan teknologi tersebut, rompi diharapkan mampu memberikan respons berdasarkan kondisi anak, bukan sekadar bekerja secara manual.
Begitu Terdeteksi, Rompi Memberi Tekanan
Saat sistem mendeteksi kondisi yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, mikrokontroler ESP32 dapat mengaktifkan pompa udara.
Udara kemudian mengisi kantung di dalam rompi sehingga menghasilkan tekanan pada tubuh.
Tekanan tersebut menggunakan pendekatan Deep Pressure Therapy yang dirancang memberikan sensasi menenangkan seperti tekanan saat mendapatkan pelukan.
Agar tidak asal “pencet gas”, ADAPT-V juga dilengkapi sistem pengendalian tekanan.
Sensor MPX5100DP digunakan untuk memantau tekanan, sementara algoritma PID membantu menjaga tekanan agar tetap berada pada batas yang telah ditentukan.
Ketika kondisi anak kembali tenang, sistem dapat mengurangi tekanan secara perlahan.
Orang Tua Bisa Ikut Memantau
Teknologi ADAPT-V tidak berhenti di rompinya.
Sistem IoT memungkinkan data dikirim ke aplikasi smartphone sehingga orang tua dan terapis dapat memantau kondisi anak serta respons perangkat secara real-time.
Artinya, orang tua tidak harus terus menebak-nebak kondisi anak hanya dari gerakan atau suara.
Data dari perangkat dapat menjadi informasi tambahan bagi orang tua maupun terapis dalam melakukan pemantauan.
Lima Mahasiswa, Satu Ide Futuristik
Inovasi ini dikembangkan oleh lima mahasiswa Universitas Brawijaya dari bidang yang berkaitan dengan teknik dan psikologi.
Pengembangan ADAPT-V dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), dengan melibatkan pendekatan multidisiplin.
Ide tersebut berangkat dari kondisi sebagian anak dengan ASD yang dapat mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik.
Dalam kondisi tertentu, respons tersebut dapat muncul dalam bentuk menangis, berteriak, menendang hingga perilaku agresif.
Karena itu, tim mencoba membuat perangkat yang dapat memberikan respons lebih cepat ketika muncul tanda-tanda tertentu.
Masih Harus Lulus Banyak “Ujian”
Meski terdengar seperti teknologi masa depan, perjalanan ADAPT-V masih panjang.
Tim pengembang masih melakukan pengujian untuk memastikan apakah sensor mampu membaca kondisi secara akurat, apakah algoritmanya bekerja dengan baik, serta apakah tekanan yang diberikan benar-benar aman dan nyaman.
Perangkat juga harus mempertimbangkan berbagai kondisi pengguna karena setiap anak memiliki kebutuhan dan respons sensorik yang berbeda.
Jadi, belum waktunya mengatakan bahwa ADAPT-V adalah solusi tunggal untuk tantrum pada anak ASD.
Tetapi inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi mahasiswa Indonesia mulai mencoba masuk ke persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kalau nantinya berhasil melewati seluruh tahap pengujian, bukan tidak mungkin rompi seperti ADAPT-V menjadi salah satu perangkat pendukung bagi orang tua dan terapis.
Dari rompi biasa menjadi rompi yang bisa “membaca situasi” dan memberikan tekanan seperti pelukan.
Teknologi memang makin ke sini makin bikin bengong.
Besok-besok jangan kaget kalau rompi sudah lebih peka membaca suasana daripada manusia.
(Agus Marwan)

























