SUARAINDONEWS.COM, BANDA ACEH — Bagi Muhammad Ichsan, budidaya ikan bukan hal yang benar-benar asing. Di kampungnya, Aceh Tamiang, aktivitas tersebut cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, selama ini ia hanya melihatnya dari luar. Ia belum benar-benar memahami bagaimana ikan dibudidayakan, bagaimana pakan dibuat, hingga bagaimana memastikan proses budidaya berjalan dengan baik.
Kesempatan untuk mempelajarinya datang ketika Ichsan mengetahui Program SMK Go Global melalui Instagram BP3MI Aceh. Ia pun memilih mengikuti program tersebut. Bukan semata-mata karena ingin bekerja ke luar negeri, tetapi juga karena ada keterampilan yang ingin dikuasainya sebagai bekal masa depan.
“Saya ingin mengembangkan skill saya di bidang perikanan. Di kampung saya banyak masyarakat yang melakukan budidaya ikan, jadi saya ingin tahu lebih banyak ilmunya dan mengembangkan skill saya,” ujar Ichsan saat diwawancarai setelah mengikuti sesi pelatihan budidaya ikan air tawar di Universitas Indonesia Venezuela, Aceh, Senin (28/9/2026).
Hari-hari berikutnya membuat Ichsan semakin dekat dengan dunia yang sebelumnya hanya ia lihat dari kejauhan. Ia belajar menyiapkan wadah budidaya, mengenali induk ikan, memahami proses pemijahan hingga membuat pakan.
Bagi Ichsan, membuat pakan menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui, kini bisa dikerjakannya sendiri. Dari sana, ia mulai merasakan bahwa pelatihan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan dirinya untuk menghadapi pekerjaan di bidang yang akan digelutinya.
“Banyak sekali yang terasa. Salah satunya pengembangan skill dan jati diri. Semuanya menjadi lebih terstruktur sehingga menjadikan pribadi yang tangguh dan menambah skill kami,” katanya.
Meski demikian, proses belajar tidak selalu berjalan mudah. Istilah-istilah dalam budidaya ikan yang sebelumnya asing membuat Ichsan beberapa kali harus bertanya kepada instruktur. Ia memilih tidak menyimpan kebingungan itu sendiri.
Sedikit demi sedikit, hal yang awalnya terasa asing mulai menjadi akrab.
Kini, Ichsan sedang mempersiapkan langkah berikutnya. Malaysia menjadi negara yang ia tuju untuk bekerja di bidang budidaya ikan air tawar.
Ada harapan yang lebih besar dari sekadar mendapatkan pekerjaan. Jika kesempatan itu benar-benar datang, Ichsan ingin membawa pulang sesuatu yang lebih dari penghasilan. Ia ingin membawa pengalaman dan ilmu yang suatu hari dapat dibagikan kepada masyarakat di kampungnya.
Ia juga ingin mengajak teman-temannya yang belum pernah mengikuti pelatihan untuk berani mencoba.
“Ketika teman-teman sudah berangkat ke luar negeri, pulang membawa ilmu dan membagikan pengalaman yang seru di negara tetangga,” ujarnya.
Di balik keinginannya untuk bekerja, ada orang tua yang menjadi salah satu alasan Ichsan ingin melangkah lebih jauh.
Jika kelak mendapat rezeki dari pekerjaannya di luar negeri, ia ingin memberikan hasilnya kepada kedua orang tuanya. Bagi Ichsan, keberhasilan bukan hanya tentang bisa berangkat dan bekerja di negeri orang, tetapi juga tentang apa yang dapat diberikan kembali kepada keluarga yang selama ini mendukungnya.
Cerita tentang kesempatan dan harapan itu juga tumbuh dalam diri Rizki Aulia Ramadhana, pemuda asal Sabang yang mengikuti pelatihan yang sama.
Rizki datang dengan bekal ilmu kelautan yang pernah dipelajarinya di bangku pendidikan tinggi. Ketika melihat informasi pelatihan melalui Instagram BP3MI Aceh, ia merasa bidang budidaya ikan masih memiliki keterkaitan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ia pun mencoba masuk ke dunia yang sebelumnya belum banyak dikenalnya.
Di tempat pelatihan, Rizki menemukan banyak hal baru. Salah satunya proses penyuntikan perangsang pada induk ikan untuk pemijahan. Baginya, keterampilan tersebut tidak mudah karena ia tidak memiliki latar belakang khusus di bidang budidaya ikan.
Namun, justru dari hal-hal yang belum diketahuinya itulah proses belajar dimulai.
Ia belajar bahwa budidaya ikan bukan sekadar memelihara ikan. Ada proses panjang yang harus diperhatikan, mulai dari menyiapkan wadah, memilih induk, melakukan pemijahan, merawat telur dan larva, hingga menjaga kualitas air dan pakan.
“Banyak perubahan yang saya miliki karena tidak pernah belajar di bidang budidaya ini. Banyak ilmu yang saya serap dari instruktur dan dari lapangan,” kata Rizki.
Kini, Rizki bersiap menghadapi peluang penempatan kerja di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Bagi Rizki, program tersebut juga memberikan keyakinan bahwa anak muda yang sedang mencari arah memiliki ruang untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mempersiapkan diri memasuki pasar kerja luar negeri.
“Di BP3MI Aceh ini ada wadah yang siap memberangkatkan kita ke luar negeri. Bagi yang mau berusaha, pasti bisa,” ujarnya.
Seperti Ichsan, Rizki juga membawa satu nama yang selalu ada dalam pikirannya ketika berbicara tentang masa depan, yakni orang tua.
Ia mengingat bagaimana orang tuanya membesarkannya dengan kedisiplinan dan etika. Jika suatu hari berhasil bekerja di luar negeri, ia ingin memberikan yang terbaik untuk mereka.
“Terima kasih sudah mendidik saya, sudah membesarkan saya dengan kedisiplinan, etika, dan segalanya. Saya akan memberikan yang terbaik untuk orang tua saya,” katanya.
Sementara kedua peserta itu menyiapkan mimpi masing-masing, Edi Miswar melihat perkembangan mereka dari dekat.
Sebagai instruktur, Edi mendampingi peserta sejak mereka mengenal dasar-dasar budidaya hingga mulai mampu melakukan praktik secara mandiri. Tidak semua peserta datang dengan latar belakang perikanan. Ada yang sudah memiliki pengalaman, ada pula yang benar-benar memulainya dari nol.
Namun, menurut Edi, kemauan untuk belajar membuat perbedaan latar belakang tersebut bukan menjadi persoalan besar.
Peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Setelah itu, mereka belajar menyiapkan wadah, memilih induk yang baik, memahami proses pemijahan hingga merawat telur dan larva.
Dalam praktik pemijahan semi-intensif, peserta terlibat langsung dalam proses memberikan rangsangan kepada induk ikan. Mereka kemudian memantau perkembangan telur hingga menetas menjadi larva.
Hari demi hari, kolam praktik menjadi ruang belajar yang semakin hidup. Peserta tidak lagi hanya mendengarkan penjelasan. Mereka mulai memegang peralatan, mengamati ikan, berdiskusi ketika menemukan persoalan, dan mencoba menyelesaikan masalah bersama.
Pada hari keempat, larva yang mereka rawat mulai terlihat sehat dan lincah.
“Alhamdulillah larvanya terlihat sehat, lincah dan bagus,” ujar Edi.
Dari sana, peserta belajar tentang pakan dan kualitas air, termasuk menghitung formulasi pakan sesuai dengan pertumbuhan ikan. Pengetahuan tersebut kemudian dilengkapi dengan analisis usaha agar peserta memahami bagaimana keterampilan budidaya dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang berkelanjutan.
Edi melihat kemampuan peserta berkembang cukup cepat. Sekitar 80 persen peserta, menurut pengamatannya, sudah mampu melakukan praktik dengan lebih mandiri. Ketika menemui persoalan, mereka mulai mencoba mencari jalan keluar sendiri sebelum kembali bertanya kepada instruktur.
“Kalau terjadi kendala, mereka sudah bisa berimprovisasi supaya tidak gagal. Kalau benar-benar tidak bisa, mereka akan bertanya,” katanya.
Bagi Edi, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari pelatihan. Sebab, yang ingin dibangun bukan hanya kemampuan melakukan satu pekerjaan, tetapi juga keberanian untuk mencoba, bertanya, dan mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Sambil menunggu kesempatan bekerja ke luar negeri, ilmu tersebut dapat dipraktikkan dan dikembangkan di kampung masing-masing.
Di kolam-kolam praktik itu, anak-anak muda seperti Ichsan dan Rizki sedang belajar lebih dari sekadar budidaya ikan.
Mereka sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang baru. Mereka belajar bahwa sesuatu yang awalnya tidak diketahui bisa dipelajari, bahwa rasa ragu dapat dilalui dengan bertanya, dan bahwa keterampilan yang hari ini dipelajari di kolam pelatihan dapat menjadi bekal ketika kelak bekerja di luar negeri.
Bagi Ichsan, langkah itu akan membawanya menuju Malaysia. Bagi Rizki, peluangnya terbuka di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Namun, ke mana pun langkah itu membawa mereka, ada satu hal yang tetap ingin mereka bawa pulang: ilmu, pengalaman, dan sesuatu yang bisa diberikan kepada keluarga di rumah.
Sebab bagi mereka, pergi ke negeri seberang bukan hanya tentang mencari penghidupan. Ada harapan untuk kembali suatu hari nanti dengan membawa cerita bahwa kesempatan yang dimulai dari sebuah pelatihan telah membuka jalan baru bagi kehidupan mereka.
(Purwantiningsih)

























