SUARAINDONEWS.COM, Lombok Timur – Kemunculan seekor ikan oarfish sepanjang sekitar empat meter menghebohkan warga dan wisatawan di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ikan laut dalam tersebut ditemukan dalam kondisi terdampar. Video penemuannya kemudian beredar di media sosial dan menarik perhatian publik karena bentuk tubuhnya yang panjang dan tidak biasa.
Mengutip pemberitaan Detik.com, oarfish yang ditemukan di Pantai Pink tersebut memiliki panjang sekitar empat meter. Penemuan ini semakin menjadi sorotan karena oarfish selama ini dikenal dengan julukan “ikan kiamat”.
Julukan tersebut muncul karena dalam legenda Jepang, kemunculan oarfish yang terdampar di pantai kerap dikaitkan dengan gempa bumi dan tsunami.
Namun, mitos tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa oarfish mampu memprediksi bencana.
Dikaitkan dengan Gempa dalam Legenda Jepang
Laman Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan bahwa oarfish memang memiliki kaitan dengan cerita rakyat Jepang mengenai gempa bumi.
Dalam legenda tersebut, oarfish dipercaya sebagai utusan dari Istana Dewa Laut. Kemunculannya di perairan dangkal atau ketika terdampar di pantai kemudian dikaitkan dengan pertanda akan terjadinya gempa bumi dan tsunami.
Cerita tersebut membuat oarfish mendapat julukan “ikan kiamat” dan setiap kali ikan ini ditemukan terdampar, kemunculannya sering menjadi perhatian masyarakat.
Salah satu nama yang pernah dikaitkan dengan teori tersebut adalah Kiyoshi Wadatsumi, peneliti gempa bumi dari organisasi nirlaba e-PISCO. Ia menyebut ikan yang hidup di laut dalam dianggap lebih sensitif terhadap perubahan atau pergerakan patahan aktif dibandingkan organisme yang hidup di dekat permukaan.
Meski demikian, hubungan antara terdamparnya oarfish dan terjadinya gempa masih menjadi perdebatan dan belum dapat digunakan sebagai metode ilmiah untuk memprediksi gempa.
Hidup di Kedalaman Laut
Oarfish bukan ikan yang biasa ditemukan di kawasan pantai. Ikan ini merupakan penghuni laut dalam dan dapat hidup hingga kedalaman sekitar 1.000 meter.
Kondisi tersebut membuat kemunculan oarfish di dekat pantai menjadi fenomena yang relatif jarang dilihat langsung oleh masyarakat.
Oarfish termasuk dalam famili Regalecidae. Catatan mengenai kelompok ikan ini telah ada sejak 1772 dan spesiesnya dapat ditemukan di wilayah laut dengan iklim sedang hingga tropis.
Famili Regalecidae memiliki sejumlah spesies yang terbagi dalam beberapa genus. Salah satu yang paling dikenal adalah oarfish raksasa (Regalecus glesne).
Spesies tersebut dapat tumbuh dengan ukuran yang sangat panjang. Beberapa sumber mencatat oarfish raksasa dapat mencapai sekitar 11 meter.
Bahkan, oarfish dikenal sebagai salah satu ikan bertulang terpanjang di dunia. Individu tertentu dilaporkan dapat mencapai panjang hingga sekitar 17 meter dengan bobot sekitar 270 kilogram.
Ukuran tersebut membuat bentuk oarfish terlihat sangat berbeda dibandingkan ikan yang biasa ditemui nelayan atau wisatawan di perairan dangkal.
Bukan Ikan Predator
Meski memiliki tubuh sangat panjang, oarfish bukan merupakan ikan predator besar yang memangsa hewan laut berukuran besar.
Makanan utama oarfish justru berupa organisme berukuran kecil, terutama plankton.
Oarfish tidak memiliki gigi seperti ikan predator pada umumnya. Ikan ini menggunakan struktur penyapu insang atau gill rakers untuk menyaring organisme kecil dari air laut.
Cara makan tersebut membuat oarfish lebih banyak mengandalkan penyaringan air untuk mendapatkan makanan.
Kenapa Bisa Terdampar?
Kemunculan oarfish di pantai dapat disebabkan berbagai faktor lingkungan dan kondisi fisik ikan. Namun, satu kejadian terdampar tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ikan tersebut sedang memberikan tanda akan terjadi bencana.
Karena itu, temuan oarfish sepanjang empat meter di Pantai Pink Lombok Timur sebaiknya dilihat sebagai fenomena alam yang menarik, bukan sebagai kepastian akan datangnya gempa atau tsunami.
Fenomena tersebut tetap menarik untuk diteliti karena oarfish merupakan penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia.
Penemuan di Pantai Pink pun menjadi pengingat bahwa masih banyak kehidupan laut dalam yang belum sepenuhnya diketahui masyarakat.
Dengan demikian, meski disebut “ikan kiamat”, kemunculan oarfish empat meter di Lombok tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda bencana. Mitos dari Jepang menjadi bagian menarik dari sejarah dan budaya ikan tersebut, sementara penyebab ilmiah terdamparnya tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























