SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani mengatakan, kesehatan mental menjadi bagian penting dari pelindungan pekerja migran.
Menurutnya, pelindungan pekerja migran tidak hanya mencakup aspek fisik dan hukum, tapi juga dukungan psikologis dan emosional, terutama ketika mereka menghadapi tekanan selama bekerja jauh dari keluarga dan Tanah Air.
“Perhatian terhadap kesehatan mental juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelindungan pekerja migran. Kita perlu memastikan pekerja migran memiliki akses ketika menghadapi persoalan yang memengaruhi kondisi psikologis dan emosional mereka,” ujar Christina saat kick off Layanan Telekonseling bagi Pekerja Migran Indonesia, Senin (12/10/2026).
Layanan telekonseling ini hadir untuk memperluas akses dukungan kesehatan mental bagi pekerja migran di berbagai negara penempatan.
Mengusung tema “Dengarkan Ceritanya, Kuatkan Langkahnya: Dukungan Nyata untuk Kesehatan Mental Pekerja Migran”, telekonseling ini menyediakan dukungan psikologis sesuai kebutuhan, edukasi kesehatan mental, serta arahan mengenai langkah yang dapat dilakukan pekerja migran menghadapi persoalan yang dialami.
Layanan telekonseling dapat diakses secara gratis melalui nomor 0811-8080-141. Nantinya, pekerja migran terlebih dahulu mengisi data diri atau self-screening dan menyampaikan persetujuan untuk mengikuti layanan.
Selanjutnya, pekerja migran dapat memilih jadwal konseling dan mengikuti sesi secara virtual bersama psikolog berizin praktik dan jika diperlukan, terdapat akses atau rujukan untuk penanganan lebih lanjut.
“Setiap pekerja migran memiliki cerita, perjuangan, harapan, dan tantangannya masing-masing. Melalui layanan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang aman dan nyaman agar pekerja migran dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan, didengarkan tanpa dihakimi, serta mendapatkan dukungan dari tenaga profesional,” jelas politisi Partai Golkar ini.
Wamen Christina berharap, layanan telekonseling semakin dikenal dan dimanfaatkan pekerja migran yang membutuhkan.
Ia juga mendorong agar kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental terus diperluas, sehingga pekerja migran tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.
“Mencari bantuan merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari upaya menjaga diri. Kami ingin setiap pekerja migran mengetahui ketika menghadapi persoalan, mereka tidak sendirian. Ada yang siap mendengarkan, ada yang peduli, dan ada dukungan yang dapat diakses,” pungkas Christina Aryani.
(Purwantiningsih)
























