SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Sekitar 45.000 warga etnis Korea Selatan diperkirakan telah memeluk agama Islam. Sebagian dari mereka berasal dari kalangan anak muda yang tertarik pada ajaran tauhid, kesederhanaan hidup, nilai keluarga, hingga rasa persaudaraan dalam komunitas Muslim.
Fenomena tersebut dilaporkan The Korea Times dalam artikel berjudul Why Some Koreans Look Beyond Their Culture to Islam yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026.
Dalam laporannya, media Korea Selatan itu mengungkapkan bahwa Masjid Pusat Seoul di kawasan Itaewon menerima sekitar 5 hingga 25 orang setiap bulan untuk mengikuti pembelajaran dasar Islam. Sebagian besar peserta yang datang untuk mengenal Islam tersebut merupakan laki-laki berusia 20 hingga 30-an tahun.
Salah satu mualaf yang diwawancarai adalah Yusuf, warga etnis Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014. Ia mengatakan, sebagian pria Korea tertarik pada Islam karena ingin membangun rumah tangga dengan landasan yang dinilai lebih sederhana dan jelas.
Menurut Yusuf, budaya kencan yang kompetitif, terutama di kota besar seperti Seoul, menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pria mencari alternatif dalam membangun hubungan dan kehidupan keluarga.
Namun, ketertarikan terhadap Islam tidak hanya berkaitan dengan pernikahan. Sejumlah perempuan Korea juga mengungkapkan ketertarikan terhadap konsep tauhid atau keyakinan kepada satu Tuhan, serta nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.
Tauhid dan Nilai Keluarga
Salah satu mualaf perempuan yang diwawancarai The Korea Times adalah Areum, warga Korea berusia 30-an. Ia menilai konsep keesaan Tuhan dalam Islam menarik baginya.
Areum juga melihat adanya kesesuaian antara ajaran Islam tentang penghormatan kepada orang tua dan nilai keluarga yang telah dikenalnya sejak kecil dalam budaya Korea.
Kesamaan tersebut membuatnya lebih mudah menjelaskan keputusan memeluk Islam kepada keluarganya.
Bagi sebagian mualaf yang diwawancarai, keputusan memeluk Islam merupakan bagian dari pencarian keyakinan dan makna hidup. Mereka merasa perlu memperluas pemahaman di luar lingkungan budaya yang selama ini membentuk kehidupan mereka.
Meski demikian, pengalaman tersebut bersifat individual dan tidak dapat digeneralisasi sebagai alasan seluruh warga Korea Selatan memeluk Islam.
Masjid Menjadi Tempat Belajar Islam
Masjid Pusat Seoul di Itaewon menjadi salah satu tempat warga Korea mengenal ajaran Islam. Melalui kelas pengenalan agama, peserta mempelajari dasar-dasar Islam sebelum memutuskan apakah akan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Syahadat merupakan pernyataan keyakinan yang menjadi dasar seseorang memeluk Islam. Keputusan tersebut merupakan pilihan pribadi yang berkaitan dengan keyakinan masing-masing individu.
Yusuf mengaku pertama kali tertarik mempelajari Islam setelah bertemu dengan teman-teman Muslim dalam komunitas bahasa Inggris. Interaksi tersebut mendorongnya mengenal agama dan kebudayaan di luar lingkungan yang selama ini akrab baginya.
Di sisi lain, menjadi Muslim di Korea Selatan juga dapat menghadirkan tantangan sosial. Sejumlah mualaf mengaku menghadapi prasangka, diskriminasi, atau pengucilan dari lingkungan pertemanan dan pekerjaan.
Namun, sebagian dari mereka mengatakan menemukan dukungan dan rasa kebersamaan melalui komunitas Muslim.
Areum menggambarkan pengalaman pertamanya mengunjungi Masjid Pusat Seoul sebagai perasaan seperti menemukan tempat yang selama ini dicari.
Media Sosial Perluas Pengenalan Islam
Perkembangan media sosial turut membuka ruang bagi warga Korea untuk mengenal Islam melalui pengalaman orang-orang yang menjalani kehidupan sebagai Muslim.
Sejumlah kreator konten Muslim asal Korea, seperti Ayana Jihye Moon dan Daud Kim, membagikan pengalaman keagamaan dan kehidupan sehari-hari melalui platform digital. Konten tersebut menjangkau audiens Korea maupun internasional.
Perpaduan identitas budaya Korea dengan gaya hidup Muslim, termasuk konten busana hijab dan pakaian tradisional hanbok, juga menjadi salah satu cara memperkenalkan kehidupan Muslim kepada masyarakat yang belum banyak mengenal Islam.
Meski demikian, pengaruh media sosial terhadap keputusan seseorang memeluk agama tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan popularitas konten. Pengalaman pribadi, interaksi sosial, dan proses pembelajaran agama juga dapat berperan.
Laporan The Korea Times turut menempatkan perkembangan tersebut dalam konteks sejarah panjang interaksi masyarakat Korea dengan komunitas Muslim, mulai dari kedatangan pedagang Muslim pada masa Dinasti Silla hingga perkembangan komunitas Muslim modern setelah Perang Korea.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa ketertarikan sebagian warga Korea Selatan terhadap Islam memiliki latar belakang yang beragam. Tauhid, nilai keluarga, pencarian makna hidup, interaksi dengan teman Muslim, dan dukungan komunitas menjadi sejumlah faktor yang muncul dalam pengalaman para mualaf yang diwawancarai.
Adapun angka sekitar 45.000 orang yang disebut dalam laporan tersebut merupakan perkiraan warga etnis Korea yang memeluk Islam, bukan angka resmi hasil sensus yang telah terverifikasi.
(yulianto)
























