SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Robot personal berbentuk bebek bernama Microduck tengah menjadi sorotan setelah mencatat penjualan lebih dari 10.000 unit hanya dalam beberapa hari sejak diluncurkan.
Robot yang dikembangkan Pollen Robotics dan kini berada di bawah Hugging Face tersebut dilaporkan telah menghasilkan penjualan lebih dari US$5 juta atau sekitar Rp88 miliar. Tingginya permintaan bahkan membuat jadwal pengiriman pesanan baru mundur dari target awal Natal 2026.
Microduck ditawarkan dengan harga US$399 atau sekitar Rp7 juta per unit. Dengan bobot hanya sekitar 800 gram, robot ini dibekali sensor, motor, serta kemampuan komputasi untuk menjalankan sejumlah fungsi kecerdasan buatan (AI) langsung di perangkat.
Salah satu komponen penting yang digunakan adalah chip RK3566 buatan perusahaan semikonduktor China, Rockchip. Chip tersebut menggunakan teknologi yang dilisensikan dari perusahaan Inggris, ARM.
Penggunaan chip China dalam robot yang dikembangkan perusahaan Prancis-Amerika ini memperlihatkan bagaimana rantai pasok teknologi global masih saling terhubung di tengah persaingan industri teknologi antara China dan negara-negara Barat.
Analis Omdia Lian Jye Su mengatakan Rockchip merupakan salah satu pemasok penting untuk teknologi AI yang diproses langsung di perangkat atau edge AI.
“Meski memiliki jejak yang sangat luas, chip perusahaan ini tidak dirancang untuk perangkat edge AI yang kompleks karena kekurangan sumber daya komputasi,” kata Su, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (3/9/2026).
Pemrosesan AI langsung di perangkat menjadi salah satu tren teknologi yang berkembang karena memungkinkan perangkat seperti ponsel, robot, dan perangkat elektronik lainnya menjalankan fungsi AI tanpa harus terus-menerus mengirimkan data ke cloud melalui internet.
Dari sisi bisnis, Rockchip juga mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Pada semester I 2026, pendapatan operasional perusahaan meningkat sekitar 40 persen secara tahunan menjadi 2,88 miliar yuan atau sekitar US$428 juta. Laba bersih setelah mengecualikan sejumlah pos satu kali juga dilaporkan melonjak lebih dari 60 persen.
Microduck sendiri tidak hanya diposisikan sebagai robot personal atau perangkat hiburan. Produk tersebut juga dirancang sebagai platform pengembangan dengan perangkat lunak sumber terbuka.
Robot ini diklaim dapat belajar melalui simulasi virtual serta menerima instruksi berbasis tujuan. Pollen Robotics memilih chip Rockchip karena RK3566 memiliki Neural Processing Unit (NPU) dengan kemampuan sekitar 1 TOPS untuk pemrosesan AI langsung di perangkat.
Sebagai perbandingan, Nvidia Jetson Orin Nano 2 yang akan datang disebut memiliki kemampuan komputasi hingga 78 TOPS.
Microduck merupakan robot kedua hasil pengembangan Pollen Robotics setelah startup asal Prancis tersebut diakuisisi Hugging Face pada tahun lalu. Robot pertama yang dikembangkan keduanya juga dilaporkan telah terjual lebih dari 10.000 unit.
Ledakan permintaan Microduck terjadi ketika persaingan di pasar robot personal dan humanoid semakin ramai. Startup Zeroth, misalnya, meluncurkan robot humanoid seukuran anak-anak dengan harga 8.888 yuan dan menawarkan kemampuan belajar melalui simulasi virtual.
Sementara itu, Mondo Robotics mengembangkan robot berkamera yang memiliki desain menyerupai karakter Wall-E, dengan kamera bergaya GoPro yang ditempatkan di atas kendaraan beroda. Kampanye pendanaan produk tersebut di Kickstarter disebut telah mengumpulkan lebih dari 80 kali target awal US$50.
Hugging Face juga tengah menjadi perhatian industri teknologi setelah muncul laporan mengenai kesepakatan akuisisi oleh Nvidia senilai US$12,9 miliar.
Popularitas Microduck menunjukkan bahwa pasar robot personal mulai bergerak dari sekadar perangkat eksperimental menuju produk yang dapat langsung dibeli konsumen. Harga relatif terjangkau, kemampuan AI di perangkat, serta konsep perangkat lunak terbuka menjadi sejumlah faktor yang membuat robot berbentuk bebek tersebut menarik perhatian pasar.
(Agus Marwan)
























