SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Perebutan menjadi lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) mulai memanas. Meski sejumlah nama sudah mencuat, pemerintah memastikan belum ada daerah yang bisa mengklaim diri sebagai pemenang.
Bali Utara, KEK Kura-Kura Bali, hingga KEK Sanur sama-sama masuk radar. Namun, semuanya masih harus “bertarung” menunjukkan proposal terbaik sebelum dipilih menjadi rumah baru pusat keuangan internasional yang digadang-gadang mampu menarik investasi global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan asal menunjuk lokasi. Keputusan akan didasarkan pada kesiapan infrastruktur, biaya pembangunan yang efisien, hingga kemampuan kawasan tersebut menarik investor asing dan individu dengan aset besar.
“Ada usul beberapa nama, ada yang Bali Utara, ada yang Kura-Kura, ada yang Sanur. Tapi kan belum clear proposal yang jelas seperti apa. Nanti kita lihat yang paling masuk akal, yang paling cepat bisa dijalankan, dan yang paling murah cost-nya buat negara. Yang paling bisa mendatangkan investor asing atau orang kaya datang menaruh uang di situ, itu yang akan kita pilih,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Selasa (21/7/2026).
Pernyataan itu langsung memunculkan spekulasi mengenai daerah mana yang memiliki peluang terbesar menjadi “magnet” baru bagi investor dunia. Pemerintah ingin PFII tidak sekadar menjadi kawasan bisnis, tetapi juga pusat keuangan internasional yang mampu bersaing dengan kota-kota finansial global.
Meski beberapa lokasi yang diusulkan berada di kawasan ekonomi khusus (KEK), Purbaya memastikan status KEK bukan syarat mutlak.
“KEK enggak masuk katanya. Tapi begini, nanti tergantung proposal yang paling baik seperti apa. Kalau ada KEK bisa dibubarkan KEK-nya, kira-kira begitu kan, jadi bukan halangan juga. Tapi pada dasarnya kita akan lihat yang terbaik seperti apa,” ujarnya.
Ia menegaskan keputusan akhir tidak akan bergantung pada preferensi pribadi, melainkan melalui penilaian tim lintas instansi agar hasilnya benar-benar memberikan manfaat optimal bagi negara.
“Bukan preferensi saya pribadi. Nanti ada tim yang menilai itu supaya hasilnya optimal,” tegas Purbaya.
Menurutnya, pemerintah akan memilih lokasi yang paling siap dari sisi infrastruktur, mudah dikembangkan, memiliki biaya pembangunan yang efisien, sekaligus menawarkan daya tarik tinggi bagi investor global.
PFII sendiri diproyeksikan menjadi salah satu proyek strategis pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan internasional. Kehadirannya diharapkan mampu menarik aliran modal asing, memperluas industri jasa keuangan, serta meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia.
Kini, bola ada di tangan para pengusul. Siapa yang mampu menyajikan proposal paling matang, paling cepat diwujudkan, dan paling menarik bagi investor internasional, berpeluang menjadi rumah bagi pusat keuangan kelas dunia yang tengah disiapkan pemerintah.
(Anton)

























