SUARAINDONEWS.COM – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami peningkatan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status gunung api tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaan dan vulkanik.
Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi intensif terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, di antara Provinsi Lampung dan Banten. Peningkatan status ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan seluruh pihak yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung api agar meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan rekomendasi Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat, wisatawan maupun nelayan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau karena berpotensi terjadi erupsi yang disertai lontaran material pijar, abu vulkanik maupun awan panas.
Kapal di Selat Sunda Diminta Meningkatkan Kewaspadaan
Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) juga mengeluarkan imbauan kepada seluruh operator kapal, nakhoda, perusahaan pelayaran serta pengguna jasa angkutan laut yang melintasi Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan.
Kapal diminta menghindari area di sekitar Gunung Anak Krakatau dan selalu memperhatikan informasi terbaru dari PVMBG, BMKG serta otoritas pelayaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya lontaran material vulkanik, hujan abu maupun gangguan terhadap keselamatan navigasi.
Video Viral Letusan Besar Dipastikan Bukan Kondisi Sebenarnya
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, media sosial diramaikan oleh beredarnya video yang memperlihatkan letusan dahsyat dengan semburan api merah raksasa pada malam hari.
Menanggapi hal tersebut, PVMBG menegaskan bahwa video tersebut bukan merupakan rekaman kondisi terkini Gunung Anak Krakatau. Bahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, video tersebut diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG maupun BNPB.
Gunung Api yang Terus Dipantau
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang muncul dari kaldera letusan besar Krakatau tahun 1883. Sejak kemunculannya pada 1927, gunung ini terus mengalami pertumbuhan dan aktivitas erupsi secara berkala sehingga menjadi salah satu gunung api yang dipantau secara intensif oleh PVMBG.
Peristiwa erupsi besar pada Desember 2018 yang memicu longsoran tubuh gunung dan tsunami di Selat Sunda menjadi pengingat bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau harus terus diwaspadai.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Meski status telah meningkat menjadi Level III (Siaga), masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik. Warga diminta mematuhi seluruh rekomendasi pemerintah, mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah bersama Badan Geologi, PVMBG, BMKG dan instansi terkait terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk memastikan keselamatan masyarakat dan pengguna jalur pelayaran di Selat Sunda.
(Anton)

























