SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api di Indonesia. Saat ini terdapat lima gunung api yang berada pada status Level III atau Siaga, termasuk Gunung Anak Krakatau yang baru-baru ini mengalami erupsi.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, kelima gunung tersebut adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur.
“Jadi kita memang sekarang ini ada lima gunung yang sedang level 3 atau level siaga,” kata Berton.
Menurut Berton, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire serta berada pada pertemuan sejumlah lempeng tektonik yang membuat aktivitas kegempaan dan vulkanik cukup tinggi.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki puluhan gunung api dengan karakter dan riwayat aktivitas yang berbeda. Berdasarkan klasifikasi gunung api, terdapat gunung tipe A yang memiliki catatan letusan sejak 1600, tipe B yang memiliki catatan letusan sebelum 1600, serta tipe C yang tidak memiliki catatan letusan tetapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik.
Berton mengatakan aktivitas gunung api memberikan sejumlah ancaman yang harus diantisipasi. Bahaya tersebut antara lain lontaran batu pijar, gas beracun, aliran lava, lahar, abu vulkanik, hingga awan panas.
Gas beracun menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai karena tidak selalu terlihat maupun tercium. Dalam konsentrasi tertentu, gas vulkanik dapat membahayakan bahkan mematikan manusia dan hewan.
“Gas beracun ini yang paling kita takuti sebenarnya. Ini kadang-kadang tidak terlihat atau tidak berasa, tapi bisa kita hirup dan kita lemas,” ujarnya.
Selain ancaman langsung saat erupsi, BNPB juga mengingatkan adanya bahaya sekunder setelah aktivitas erupsi, terutama banjir lahar.
Material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung dapat terbawa air hujan melalui sungai dan menyebabkan banjir lahar. Ancaman tersebut tetap dapat terjadi meskipun aktivitas erupsi gunung sudah menurun.
Karena itu, Berton menilai pemantauan curah hujan di sekitar gunung api menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana. Koordinasi antara pemantauan aktivitas vulkanik, kondisi cuaca, curah hujan, serta tinggi muka air sungai diperlukan untuk mendeteksi potensi bahaya sejak dini.
“Pemantauan curah hujan menjadi penting. Teman-teman BMKG juga ketika sudah ada hujan turun, kita juga harus memperhatikan curah hujan di sekitar gunung tersebut dan tinggi muka air sungai,” katanya.
Berton juga menekankan pentingnya kesiapan jalur dan prosedur evakuasi, terutama ketika terjadi awan panas maupun bahaya sekunder seperti banjir lahar.
Menurut dia, teknologi geospasial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui jalur yang berpotensi dilalui material vulkanik maupun menentukan rute evakuasi yang lebih aman. Pengetahuan masyarakat lokal juga dinilai penting untuk melengkapi sistem mitigasi berbasis teknologi.
Berton menjelaskan, status aktivitas gunung api memiliki empat tingkatan, yakni Level I Normal, Level II Waspada, Level III Siaga, dan Level IV Awas.
Pada Level III atau Siaga, aktivitas gunung api mengalami peningkatan dan potensi erupsi maupun ancaman signifikan harus menjadi perhatian. Pada level ini, kawasan yang masuk zona rawan bencana dapat harus dikosongkan sesuai rekomendasi otoritas teknis.
Sementara Level IV atau Awas merupakan tingkatan tertinggi yang menunjukkan gunung api berpotensi mengalami erupsi dalam waktu singkat dengan ancaman yang dapat meluas.
“Level 3 ini letusan kemungkinan ada di beberapa waktu ke depan, ada satu minggu, dua minggu, dan ada ancaman signifikan serta kawasan rawan bahaya harus dikosongkan,” jelas Berton.
Dalam paparannya, Berton juga menyinggung kondisi Gunung Anak Krakatau yang aktivitasnya baru-baru ini berdampak luas akibat sebaran abu vulkanik. Erupsi tersebut sempat mengganggu operasional sejumlah bandara dan aktivitas masyarakat.
BNPB sebelumnya menyebut lima gunung api masih berstatus Level III atau Siaga, yakni Sinabung, Anak Krakatau, Merapi, Semeru dan Lewotobi Laki-laki.
Khusus Gunung Anak Krakatau, BNPB terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Langkah tersebut mencakup pemantauan kondisi wilayah serta kesiapan menghadapi potensi dampak aktivitas vulkanik, termasuk bahaya sekunder.
Berton juga menyampaikan keprihatinan BNPB atas hilang kontaknya sejumlah wartawan yang berada di sekitar perairan Anak Krakatau untuk meliput aktivitas gunung tersebut.
“Kami dari BNPB tentu turut memberikan rasa hormat, prihatin dan juga empati kami terhadap hilang kontaknya wartawan atau jurnalis yang sedang mau mengambil beberapa gambar ataupun data terkait dengan Gunung Anak Krakatau,” kata Berton.
Ia berharap para jurnalis yang hilang kontak segera ditemukan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga serta menjalankan aktivitas jurnalistiknya.
Berton menegaskan, tingginya aktivitas gunung api di Indonesia membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan, bukan hanya ketika erupsi terjadi. Pemantauan, edukasi masyarakat, kesiapan evakuasi dan koordinasi lintas lembaga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko korban ketika bencana terjadi.
(Purwantiningsih)

























