SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai dipicu oleh perebutan kepentingan strategis di Selat Hormuz serta saling tuding pelanggaran kesepakatan damai. Kondisi tersebut meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Nasional (Unas), Hendra M. Saragih, menyatakan ini dalam forum Dialektika Demokrasi bertema “AS-Iran Kembali Memanas, Seberapa Besar Ancamannya Bagi Stabilitas Dunia?” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Hendra mengatakan, Iran selama ini menerapkan pendekatan realisme dalam politik luar negerinya, yakni mengutamakan kepentingan nasional dan kekuatan negara. Karena itu, Teheran dinilai akan tetap mempertahankan posisinya meski menghadapi tekanan dari AS.
“Baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama mempertahankan kepentingannya karena merasa memiliki kekuatan. Kondisi ini membuat eskalasi konflik sulit dihindari,” kata Hendra.
Menurutnya, ketegangan juga dipicu oleh langkah Iran yang ingin memperketat pengaturan di Selat Hormuz sebagai bentuk penegasan kedaulatan, sementara AS tetap mengerahkan kekuatan militer dengan alasan menjaga kebebasan pelayaran internasional.
Hendra menilai aksi saling balas serangan berpotensi menyeret negara-negara lain di kawasan Teluk dan mengganggu stabilitas dunia. Ia menambahkan, Iran memiliki kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan karena didukung posisi geografis yang strategis serta kemampuan pertahanan yang telah teruji.
“Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, potensi perang terbuka di kawasan masih sangat mungkin terjadi,” pungkasnya.
(Anton)
























