SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pengembangan kawasan industri sebagai salah satu strategi utama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Kawasan industri dinilai memiliki peran penting dalam mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat daya saing Indonesia di tengah persaingan global.
Pengembangan kawasan industri juga diarahkan agar terintegrasi dengan pembangunan infrastruktur dan konektivitas, sekaligus mampu beradaptasi dengan tren hilirisasi, transisi energi, dan transformasi digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan nasional sejak berdiri pada 1988.
“HKI sejak tahun 1988 telah tumbuh menjadi mitra strategis pembangunan nasional. Kalau kita ketahui, mulai dari Bekasi sampai ke Timur Indonesia, kita telah membangun yang namanya North Java Corridor. Koridor Utara Jawa, itu seluruhnya diisi oleh kawasan industri,” ujar Airlangga saat memberikan sambutan penutup pada Malam Syukuran 38 Tahun HKI yang menjadi bagian dari rangkaian Business Forum dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXV HKI di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Airlangga menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki 129 kawasan industri yang tersebar di 24 provinsi dengan total luas mencapai sekitar 170 ribu hektare. Kawasan-kawasan tersebut menjadi lokasi bagi sekitar 10.400 perusahaan manufaktur dan telah menyerap sekitar 4,5 juta tenaga kerja.
Selain itu, pemerintah juga terus mengembangkan kawasan industri yang terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
“Kawasan industri menjadi penggerak bangsa, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Di tengah persaingan investasi global yang semakin ketat, Airlangga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi tujuan investasi unggulan. Menurutnya, sejumlah negara pesaing mulai menghadapi berbagai kendala seperti tingginya biaya tenaga kerja, keterbatasan lahan, hingga kebutuhan energi yang terus meningkat.
Peluang tersebut, lanjut Airlangga, diperkuat oleh hasil survei Japan External Trade Organization (JETRO) yang menunjukkan sekitar 70 persen perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia memperoleh keuntungan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sejumlah negara tujuan investasi lainnya.
Airlangga juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang mendorong lonjakan kebutuhan terhadap data center dan infrastruktur digital. Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut, pemerintah telah menginisiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang mencakup pengembangan ekosistem ekonomi digital dan AI di kawasan ASEAN.
Menurut Airlangga, meningkatnya kebutuhan pembangunan data center membuka peluang investasi baru bagi Indonesia. Dukungan ketersediaan lahan, pasokan energi, potensi energi terbarukan, sumber daya air, serta konektivitas menjadi modal penting untuk menarik investor di sektor tersebut.
“Pengembangan data center membutuhkan dukungan listrik, energi terbarukan, air, lahan, serta konektivitas yang memadai. Peluang Indonesia di sektor ini sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui percepatan penguatan jaringan kelistrikan dan penyediaan energi hijau,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah memastikan akan terus mendorong pengembangan kawasan industri agar lebih tertata, memiliki ekosistem yang kuat, serta mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah juga akan terus memantau berbagai tantangan yang dihadapi dunia usaha dan mempercepat penyelesaian hambatan investasi.
“Jadi Pemerintah berharap dengan adanya kawasan industri, ini tentu akan menjadi kawasan yang lebih tertata dan ekosistem akan lebih terjaga,” pungkas Airlangga.
(Kiki Apriyansyah)

























