SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Memasuki usia ke-12 pada hari ini, Minggu (23/08), PROJO meneguhkan perjuangannya menjadikan rakyat Indonesia sebagai subyek utama dalam panggung politik nasional.
“Usia 12 tahun bukan sekadar penanda waktu di kalender, namun jejak perjalanan untuk tetap relevan dalam dinamika politik Indonesia,” kata Ketua Umum DPP PROJO Budi Arie Setiadi di tengah acara Ulang Tahun PROJO ke-12 di kantor pusat, Jalan Perdatam Raya 37, Jakarta Selatan, hari ini.
Budi Arie menjelaskan sejarah politik nasional mencatat kelompok relawan sebagai entitas musiman pada saat pemilu, yang menghilang setelah penghitungan suara. Setelah mengawal kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014, organisasi ini tidak membubarkan diri.
Perjalanan PROJO melewati tiga babak besar, yakni konsolidasi akar rumput (2013–2014) lalu pengawalan kebijakan pemerintah (2014–2019), hingga bertransformasi menjadi gerakan kebijakan (2019–2024).
Pada Agustus 2022, lahirlah eksperimen politik _genuine_ PROJO yaitu Musyawarah Rakyat (Musra) pada Agustus 2022. Forum tersebut diciptakan untuk menjaring aspirasi rakyat guna mencari calon pemimpin nasional pelanjut Presiden Jokowi. Hasil Musra di seluruh Indonesia diserap menjadi dukungan PROJO terhadap Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpes 2024.
Menurut Budi Arie dalam Pemerintahan Presiden Prabowo, PROJO mengambil peran sebagai jembatan yang menyambungkan keberhasilan masa lalu menuju penyempurnaannya. “PROJO juga memastikan komitmen kerakyatan tetap terjaga.”
Menapaki usia ke-12, PROJO akan tetap menjaga identitas kerakyatan dengan cara berpikir independen dan berani menjadi mata serta telinga pemerintah yang jujur.
“Jujur artinya, menyampaikan kesulitan rakyat tanpa pemanis buatan,” kata Budi Arie.
(Yulianto)
























