SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Generasi Z dan milenial di Indonesia kini semakin selektif dalam menentukan pilihan karier. Selain mempertimbangkan pendapatan, mereka juga menempatkan keseimbangan hidup, makna pekerjaan, serta kesehatan mental sebagai faktor penting dalam dunia kerja yang terus berubah.
Temuan ini tercermin dalam Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 23.000 responden secara global, termasuk responden dari Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa kemandirian finansial masih menjadi tujuan utama, dengan 34 persen Gen Z dan 33 persen milenial menjadikannya prioritas utama dalam perjalanan karier.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa generasi muda saat ini tidak hanya mengejar stabilitas ekonomi, tetapi juga mencari kualitas hidup yang lebih baik melalui pekerjaan yang fleksibel dan suportif.
“Generasi Z dan milenial semakin menilai keberhasilan karier tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga dari kesejahteraan mental, rasa aman, dan kesempatan untuk berkembang,” demikian disampaikan dalam laporan Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey.
Namun demikian, generasi muda tidak lagi memandang pekerjaan semata sebagai sumber penghasilan. Mereka mulai mencari lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis, fleksibilitas, serta kesempatan berkembang secara personal dan profesional.
Hanya sebagian kecil responden yang memprioritaskan pekerjaan dengan dampak sosial langsung, yakni 8 persen Gen Z dan 5 persen milenial. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak anak muda Indonesia memilih membangun stabilitas ekonomi terlebih dahulu sebelum mengejar pekerjaan yang berorientasi pada tujuan sosial.
Ekspektasi terhadap kepemimpinan di tempat kerja juga mengalami perubahan signifikan. Sekitar 72 persen Gen Z dan 71 persen milenial berharap mendapatkan dukungan, arahan, dan mentoring dari atasan mereka. Namun, hanya sekitar 52 persen yang merasa kebutuhan tersebut telah terpenuhi.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak manajer masih berfokus pada target operasional dan tugas teknis, sementara generasi muda mengharapkan pendekatan kepemimpinan yang lebih suportif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan manusia.
Berbagai riset global turut memperkuat temuan ini, yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja fleksibel, budaya organisasi yang sehat, serta perhatian terhadap kesehatan mental terbukti meningkatkan motivasi, kepuasan kerja, dan produktivitas karyawan.
Perubahan pola pikir generasi muda ini menjadi sinyal penting bagi dunia usaha dan organisasi untuk beradaptasi. Perusahaan yang mampu menciptakan ekosistem kerja yang seimbang dan inklusif dinilai akan lebih berhasil dalam menarik dan mempertahankan talenta masa depan.
Dengan memahami kebutuhan generasi kerja baru, diharapkan tercipta hubungan industrial yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada kualitas sumber daya manusia.
Jika Anda ingin ditambahkan kutipan dari narasumber lokal (misalnya HR perusahaan, akademisi, atau pejabat ketenagakerjaan), saya bisa sisipkan juga agar rilis terasa lebih kontekstual Indonesia.
(Anton)



















































