SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Bayangkan Berdiri di Depan Gedung 16 Lantai, Tapi Isinya Sampah Busuk: Bantargebang di Ambang Kolaps
Bayangkan kamu berdiri di depan gedung setinggi 16 lantai. Tapi alih-alih beton dan kaca, isinya adalah campuran sisa makanan, plastik, popok, dan bau yang bisa bikin hidung pensiun dini. Tingginya sekitar 50 meter. Selamat datang di TPST Bantargebang, wajah asli darurat sampah Jakarta.
Dilansir dari Kompas.com, kondisi TPST Bantargebang kini sudah masuk fase “sakratul”. Setiap hari, hampir 7.900 ton sampah dari Jakarta dijejalkan ke lokasi yang usianya sudah lebih dari 40 tahun. Ibarat manusia, ini bukan lagi usia produktif—ini sudah butuh pensiun, bukan dipaksa lembur.
Horor Dimulai Saat Musim Hujan
Kalau musim kemarau saja sudah bikin sesak napas, musim hujan adalah babak film horor. Beban timbunan sampah membuat tanah di bawahnya bergeser, sistem drainase rusak, dan risiko longsor sampah mengintai kapan saja. Ini bukan metafora. Ini nyata. Sampah bisa bergerak, meluncur, dan menelan apa pun di bawahnya.
Menurut kajian Institut Teknologi Bandung (ITB), kalau Jakarta masih mengandalkan cara lama—angkut, tumpuk, tutup—TPST Bantargebang diprediksi penuh total dan operasionalnya terancam berhenti pada 2026. Ya, 2026. Itu bukan masa depan jauh. Itu tinggal hitungan kalender.
Jakarta Lagi Main Judi Sama Waktu
Masalahnya bukan cuma Bantargebang yang kepenuhan. Masalahnya, sampah Jakarta tidak bisa berhenti diproduksi. Bahkan kalau proyek RDF (Refuse Derived Fuel) di Rorotan dan Bantargebang berjalan, kapasitasnya masih menyisakan sekitar 3.500 ton sampah per hari.
Pertanyaannya sederhana tapi menakutkan:
Sisa sampah itu mau dibuang ke mana?
Ditumpuk lagi? Dipindahkan? Atau berharap keajaiban turun dari langit?
RDF: Pahlawan atau Sekadar Penunda Kiamat?
RDF sering disebut solusi: sampah diolah jadi bahan bakar alternatif. Kedengarannya keren, modern, dan “hijau”. Tapi faktanya, RDF bukan tongkat sihir. Ia mengurangi beban, bukan menghilangkan masalah.
Kalau produksi sampah dari rumah tangga tetap brutal—bungkus sekali pakai, makanan kebuang, plastik jadi gaya hidup—maka RDF cuma jadi perban di luka infeksi.
Intinya Begini
Bantargebang bukan sekadar tempat buang sampah. Ia adalah alarm keras bahwa sistem kita sedang kewalahan. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal kebiasaan.
Kalau semua orang masih berpikir “ah, sampah kan diangkut”, maka suatu hari nanti, sampahnya yang datang menjemput kita.
Solusinya bukan cuma teknologi.
Bukan cuma RDF.
Tapi juga keputusan paling membosankan sekaligus paling penting:
berhenti nyampah dari rumah sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Karena kalau tidak, gedung 16 lantai dari sampah itu bukan akhir cerita—itu baru permulaan.
(Anton)




















































