SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Sekelompok mahasiswa di Belanda bikin gebrakan yang bikin dunia otomotif angkat alis. Mereka memperkenalkan sebuah mobil listrik yang bisa didiagnosis kerusakannya langsung oleh pemilik, bahkan diperbaiki sendiri tanpa harus bolak-balik ke bengkel spesialis yang mahal.
Mobil konsep ini diberi nama Aria, dikembangkan oleh mahasiswa dari TU/e Eindhoven University. Misinya terdengar sederhana tapi dampaknya besar: mengembalikan kendali perbaikan kendaraan ke tangan pemilik mobil, terutama di era mobil listrik yang makin rumit dan tertutup secara teknis.
Caranya juga jauh dari ribet. Pemilik Aria cukup menyambungkan ponsel ke mobil menggunakan kabel USB-C. Dari situ, aplikasi diagnostik khusus langsung membaca kondisi kendaraan dan mengidentifikasi bagian yang bermasalah dalam hitungan detik.
Yang bikin beda, aplikasi ini tidak cuma menampilkan kode error. Pengguna akan diarahkan lewat visual 3D mobil, menunjukkan secara jelas komponen mana yang rusak dan di mana letaknya. Seolah-olah mobilnya sendiri yang “ngomong”, bagian ini rusak, buka sini, ganti itu.
Marc Max Hoevenaars, mahasiswa sekaligus software engineer dalam proyek Aria, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang supaya siapa pun bisa memahami kondisi mobilnya sendiri. Begitu ponsel terhubung, sistem langsung mengenali kendaraan, menganalisis masalah, dan memberi panduan perbaikan secara cepat.
Menurut tim pengembang, Aria lahir dari keresahan terhadap mobil listrik modern yang makin canggih tapi makin susah disentuh pemiliknya. Banyak EV saat ini hanya bisa diperbaiki oleh teknisi khusus dengan alat mahal, membuat konsumen sepenuhnya bergantung pada bengkel resmi.
Taco Olmar, manajer tim proyek Aria, menyebut bahwa hampir semua mobil sebenarnya bisa diperbaiki. Masalahnya, akses terhadap pengetahuan dan komponen sering kali dibatasi. Lewat Aria, mereka ingin memberi kekuatan kembali ke konsumen agar tidak selalu bergantung pada pihak ketiga.
Tak hanya soal software, desain fisik Aria juga dibuat dengan filosofi “mudah dibongkar, mudah dirakit”. Salah satu fokus utamanya adalah baterai. Berbeda dengan kebanyakan mobil listrik yang baterainya menyatu permanen dengan rangka, Aria menggunakan sistem baterai modular yang bisa dilepas secara manual.
Callum Armour, teknisi di proyek tersebut, menyebut baterai Aria bisa dilepas dengan tangan tanpa alat khusus. Konsep ini membuka kemungkinan perawatan, penggantian, bahkan upgrade baterai tanpa harus masuk bengkel besar.
Pendekatan modular juga diterapkan pada sistem penggerak. Drivetrain dirancang sesederhana mungkin agar mudah diakses dan diperbaiki. Komponen eksterior seperti bumper dan fender juga dibuat agar bisa diganti cepat jika rusak, tanpa proses panjang dan biaya tinggi.
Di tengah tren mobil listrik yang makin tertutup, penuh sensor, dan serba “jangan disentuh”, Aria justru tampil sebagai perlawanan. Mobil ini bukan cuma alat transportasi, tapi simbol bahwa teknologi bisa canggih tanpa harus menghilangkan kendali pengguna.
Meski masih berstatus mobil konsep, Aria sudah memicu diskusi besar di kalangan pecinta otomotif, komunitas DIY, hingga pemerhati hak konsumen. Banyak yang melihat ide ini sebagai masa depan baru kendaraan listrik yang lebih manusiawi, transparan, dan ramah pemilik.
Jika konsep seperti Aria benar-benar diadopsi industri, bukan tidak mungkin ke depan mobil listrik tak lagi jadi benda misterius. Pemilik tak cuma jadi pengemudi, tapi juga “kenal luar dalam” kendaraannya sendiri.
(Anton)




















































