SUARAINDONEWS.COM, Papua Selatan – Pelan tapi pasti, jalur-jalur yang dulu terisolasi kini mulai terbuka. Di tengah hamparan rawa dan tantangan alam ekstrem, pemerintah mengebut pembangunan Jalan Wanam–Muting sebagai urat nadi baru penghubung produksi, logistik, dan harapan ekonomi masyarakat.
Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pembangunan Jalan Kawasan Strategis Penghubung Produksi (KSPP) Wanam–Muting, proyek krusial yang disiapkan untuk memecah keterisolasian wilayah selatan Papua sekaligus menghubungkan sentra pangan dengan jalur distribusi nasional.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, proyek ini bukan sekadar membangun aspal dan jembatan, melainkan membuka masa depan baru bagi Papua Selatan.
“Jalan ini adalah pengungkit ekonomi. Ketika akses terbuka, biaya logistik turun, mobilitas lancar, dan peluang usaha masyarakat akan tumbuh,” ujar Dody.
Saat ini, fokus pembangunan berada di Segmen II dengan panjang sekitar 80 kilometer. Jalur ini dilengkapi jembatan sepanjang total 480 meter di tiga titik serta empat box culvert. Di lapangan, puluhan alat berat bekerja tanpa henti: excavator, bulldozer, compactor, hingga grader dikerahkan untuk menaklukkan medan rawa yang menantang.
Segmen I tak kalah penting. Sepanjang 58 kilometer jalan baru akan dibangun dengan lebar badan 7,5 meter dan bahu jalan 1,5 meter. Infrastruktur pendukungnya mencakup empat jembatan besar, pile slab sepanjang 6,1 kilometer, serta 17 box culvert. Metode konstruksi khusus diterapkan agar jalan tetap stabil tanpa merusak ekosistem rawa.
Namun proyek ini bukan hanya soal konektivitas. Jalan Wanam–Muting juga menjadi tulang punggung program besar Presiden Prabowo Subianto: membuka dan memanen minimal 10.000 hektare sawah di Papua Selatan tahun ini.
Meninjau langsung lokasi proyek di Wanam, Menteri Dody menegaskan bahwa pemerintah sedang berpacu dengan waktu.
“Saya ingat betul arahan Presiden. Tahun ini minimal 10.000 hektare harus mulai panen. Karena itu infrastruktur dasarnya tidak boleh tertinggal,” kata Dody.
Selain jalan, fokus besar juga diarahkan pada pengendalian banjir dan kesiapan irigasi. Saluran primer hingga KM 38 dikebut agar air tawar siap mengalir saat proses cetak sawah rampung. Untuk menjamin kecukupan air, Kementerian PU sedang menghitung potensi suplai dari rawa KM 39, dengan opsi cadangan dari kawasan Angkias di KM 58 jika dibutuhkan.
Di balik pembangunan fisik, pendekatan sosial menjadi kunci. Proyek ini bersinggungan langsung dengan wilayah adat, sehingga dialog dan musyawarah dengan masyarakat setempat dilakukan secara intensif sejak Oktober 2025.
“Kami tidak ingin pembangunan berjalan tapi meninggalkan masalah sosial. Semua harus lewat dialog dan penghormatan hak masyarakat adat,” tegas Dody.
Pemerintah memastikan pembangunan jalan dan irigasi ini tidak hanya cepat, tapi juga inklusif dan berkelanjutan. Targetnya jelas: jalan berfungsi, sawah produktif, lingkungan terjaga, dan masyarakat Papua Selatan menjadi pelaku utama pertumbuhan ekonomi di tanahnya sendiri.
Ketika alat berat terus bekerja dan saluran air mulai disiapkan, Papua Selatan perlahan bergerak menuju babak baru. Dari wilayah yang lama terisolasi, kini menuju peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
(Anton)




















































