SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Dolar Amerika Serikat (AS) lagi “bad mood” dan bikin pasar global ikut was-was. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat ambruk paling parah dalam lima bulan terakhir.
Mengacu data Refinitiv, DXY pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026) turun 0,76 persen ke level 98,641. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak 1 Agustus 2025, ketika DXY sempat merosot 0,83 persen dalam sehari. Di hari berikutnya, Rabu (21/1/2026), DXY masih belum “bangun” dan turun lagi 0,15 persen ke level 98,945 per pukul 09.07 WIB.
“Sell America” Kembali Jadi Tren
Pelemahan dolar ini terjadi saat sentimen risk off di pasar global menguat. Dalam bahasa pasar, investor sedang kembali menerapkan gaya hidup “Sell America”, alias menjual aset AS, termasuk dolar dan obligasi pemerintah AS. Sementara itu, aset yang dianggap aman seperti emas mulai “dipeluk” oleh investor.
Greenland Jadi Penyebab Drama
Salah satu pemicu utama adalah ketegangan politik AS dan Eropa terkait Greenland. Ancaman dari Gedung Putih terhadap negara-negara Eropa soal masa depan Greenland membuat investor panik. Dampaknya, aset AS, mulai dari saham hingga obligasi, ikut dijual.
Akibatnya, mata uang Eropa menguat terhadap dolar, terutama euro dan poundsterling Inggris. Jadi bisa dibilang, dolar sedang “dicuekin” oleh pasar, sementara mata uang Eropa lagi “diperhatikan”.
Analis: Investor Takut dengan Ketidakpastian
Tony Sycamore dari IG menilai investor melepas aset berdenominasi dolar karena khawatir ketidakpastian akan berlangsung lama. Ada faktor hubungan aliansi yang makin tegang, kepercayaan terhadap kepemimpinan AS menurun, hingga potensi aksi balasan dan tren de-dolarisasi yang makin cepat.
Krishna Guha dari Evercore ISI juga menilai tekanan ini menunjukkan “Sell America” kembali dalam konteks risk off yang lebih luas.
Aset Lain Ikut Bergejolak
Dampak “Sell America” tidak hanya dirasakan oleh dolar. Harga obligasi pemerintah AS turun sehingga imbal hasil naik, pasar saham AS ikut tertekan, dan volatilitas meningkat. Sementara itu, emas dan perak justru menguat, seolah berkata, “Saya aman, ayo peluk saya.”
Bisa Jadi Sementara, Bisa Juga Nggak
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai dampak sell America bisa bersifat sementara. Ancaman tarif jangka pendek menjadi faktor negatif bagi dolar, terutama ketika posisi pasar masih sangat condong pada dolar.
Namun, jika eskalasi konflik membesar dan merembet ke isu keamanan yang lebih sensitif, risiko bagi Eropa juga dapat meningkat dan membuat respons pasar berubah. Jadi, dolar bisa saja kembali kuat jika drama ini reda.
Secara umum, “Sell America” menggambarkan fase ketika investor global menilai investasi di AS lebih berisiko dan memilih diversifikasi ke aset atau kawasan lain. Jika ketidakpastian kebijakan terus meningkat, dolar berpotensi terus tertekan.
(Anton)




















































