SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Partai Partai Golkar menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang diibaratkan sebagai pendekatan “mengalir tetapi tidak hanyut”. Dukungan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Golkar Idrus Marham menyusul kunjungan kerja Presiden ke Washington, DC, Amerika Serikat.
Idrus menyampaikan bahwa Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia telah menginstruksikan seluruh kader partai untuk mendukung penuh kebijakan politik luar negeri Presiden. Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya tepat secara konseptual, tetapi juga efektif secara strategis dalam kerangka kepentingan nasional jangka panjang.
Dalam perspektif diplomasi, kebijakan Presiden dipahami sebagai bentuk rasionalitas strategis negara menengah yang berupaya memaksimalkan otonomi kebijakan luar negeri tanpa mengorbankan stabilitas sistem internasional. Idrus menegaskan bahwa apabila terjadi deviasi terhadap kepentingan nasional, Presiden diyakini akan mengambil posisi korektif secara tegas, karena orientasi nasionalismenya berakar pada kepentingan negara, bukan kalkulasi politik jangka pendek.
Ia menambahkan, politik bebas aktif yang dijalankan Presiden berakar pada nilai ideologis bangsa dan konstitusi. Secara konseptual, kebijakan tersebut selaras dengan fondasi normatif negara, sementara secara strategis membuka ruang komunikasi lintas kekuatan global tanpa mengikis identitas nasional.
Menurut Idrus, bebas aktif bukan sekadar posisi netral, melainkan strategi diplomatic hedging yang memungkinkan Indonesia membangun relasi multipolar secara simultan. Pendekatan ini memberi ruang interaksi dengan berbagai aktor internasional sembari mempertahankan preferensi normatif dan kepentingan domestik. Inilah makna pendekatan “mengalir tetapi tidak hanyut” yang dinilai sedang dijalankan Presiden.
Golkar memandang keikutsertaan Presiden dalam berbagai forum internasional bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Dalam kajian politik luar negeri negara menengah, penguatan jejaring multilateralisme dan bilateralitas strategis dinilai penting untuk meningkatkan daya tawar internasional, membuka akses kerja sama ekonomi, transfer teknologi, serta memperkuat arsitektur keamanan kolektif tanpa mengorbankan independensi keputusan nasional.
Idrus juga menilai bahwa konsistensi politik bebas aktif Indonesia memperkuat kredibilitas bangsa di mata dunia. Negara yang konsisten dalam orientasi ideologis luar negerinya akan dipandang sebagai aktor yang dapat diprediksi dan dipercaya. Diplomasi yang menggabungkan pragmatisme rasional dengan prinsip normatif dinilai mampu memperkuat legitimasi eksternal sekaligus kohesi domestik.
Presiden Prabowo bertolak ke Washington pada Senin (16/2/2026) siang didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Berdasarkan keterangan resmi Sekretariat Presiden Republik Indonesia, Presiden dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas penguatan hubungan kedua negara serta kerja sama strategis di berbagai sektor.
Selain itu, Presiden juga diagendakan menghadiri pertemuan perdana Dewan Perdamaian untuk Gaza, Board of Peace (BoP) serta menandatangani kesepakatan terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat.
Golkar menilai agenda tersebut mencerminkan konsistensi Presiden dalam memperjuangkan kepentingan nasional di forum global. Partai memastikan akan berada di garis depan dalam mengawal dan mendukung kebijakan luar negeri pemerintah.
Menurut Idrus, diplomasi bebas aktif yang tegas dan terukur akan memperkuat daya tawar Indonesia sekaligus menjaga kedaulatan nasional di tengah rivalitas geopolitik global. Oleh karena itu, konsolidasi dukungan politik domestik dinilai penting agar kebijakan luar negeri negara berjalan dengan kohesivitas yang kuat dan berkelanjutan.
Selain itu, dukungan politik dari partai koalisi seperti Golkar dinilai memperkuat posisi tawar Presiden dalam menjalankan mandat diplomasi internasional. Dalam praktik hubungan luar negeri, stabilitas dukungan domestik sering menjadi faktor penentu keberhasilan negosiasi, karena menunjukkan bahwa kebijakan yang dibawa kepala negara memiliki legitimasi internal yang kuat. Kondisi ini penting terutama ketika Indonesia harus berhadapan dengan kepentingan negara besar dalam isu perdagangan, pertahanan, maupun stabilitas kawasan.
Golkar juga menilai bahwa penguatan diplomasi bebas aktif akan semakin relevan di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik global. Dalam konteks rivalitas kekuatan besar dan transformasi ekonomi dunia, Indonesia dipandang memiliki peluang memainkan peran sebagai jembatan dialog antarblok serta penggerak stabilitas regional, khususnya di kawasan ASEAN. Pendekatan ini tidak hanya menjaga keseimbangan hubungan luar negeri, tetapi juga membuka peluang investasi, perluasan pasar ekspor, serta peningkatan kapasitas industri nasional melalui kerja sama lintas kawasan.
Di sisi lain, konsistensi politik luar negeri yang berbasis konstitusi dinilai menjadi modal strategis bagi Indonesia untuk mempertahankan reputasi sebagai negara demokratis yang independen dalam menentukan sikap global. Dengan dukungan politik domestik yang solid, Indonesia berpotensi memperkuat posisinya sebagai kekuatan menengah berpengaruh di kawasan Indo-Pasifik. Golkar meyakini bahwa arah diplomasi yang dijalankan pemerintah akan membantu mengonsolidasikan peran Indonesia sebagai aktor yang mampu menyeimbangkan kepentingan nasional, stabilitas regional, dan dinamika global secara simultan.
(Anton)




















































