SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Angkanya bikin banyak orang berhenti scroll. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto nyaris menyentuh 80 persen. Di tengah iklim politik yang biasanya cepat panas, hasil survei ini langsung jadi bahan perbincangan warganet.
Survei Indikator Politik Indonesia mencatat, 79,9 persen responden menyatakan puas dengan kinerja Presiden Prabowo. Sebanyak 13 persen mengaku sangat puas, sementara 66,9 persen cukup puas. Angka ini dinilai tinggi untuk fase awal pemerintahan dan memberi sinyal kuat bahwa publik masih menaruh kepercayaan besar.
“Ini capaian yang sangat tinggi untuk fase awal pemerintahan,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. Ia menilai, publik melihat kepemimpinan Prabowo sebagai figur yang tegas, cepat bergerak, dan berani mengambil keputusan.
Menariknya, dukungan paling solid justru datang dari kelompok Gen Z dan pemilih muda. Generasi yang dikenal kritis dan vokal di media sosial ini tercatat sebagai segmen dengan tingkat kepuasan tertinggi. Banyak dari mereka menilai gaya kepemimpinan Prabowo terasa lugas, minim basa-basi, dan fokus ke hasil nyata.
Di media sosial, respons warganet beragam. Sebagian memberi apresiasi, sebagian lain mengingatkan agar pemerintah tidak terlena oleh angka. Percakapan ini menunjukkan satu hal: perhatian publik sedang tertuju penuh ke Istana.
Pemerintah pun memilih bersikap hati-hati. Istana menegaskan bahwa survei bukan tujuan utama, melainkan bahan evaluasi untuk memastikan program benar-benar berjalan dan dirasakan masyarakat.
“Kami tidak bekerja untuk mengejar angka survei. Fokus kami adalah kerja nyata dan keberlanjutan program,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Dari parlemen, pengingat serupa datang. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menilai tingginya kepuasan publik harus dibaca sebagai tanggung jawab besar.
“Ketika ekspektasi publik tinggi, konsistensi kebijakan jadi kunci,” katanya.
Pengamat menilai, lonjakan kepuasan ini juga dipengaruhi efek bulan madu pemerintahan baru. Namun fase ini tidak akan berlangsung lama. Tantangan sesungguhnya ada pada pengendalian harga, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas ekonomi.
Survei ini akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi cermin harapan publik sekaligus ujian awal bagi pemerintahan Prabowo, apakah kepercayaan yang diberikan bisa dijaga atau justru terkikis oleh realitas.
(Anton)




















































