SUARAINDONEWS. COM, Beijing — Siapa sangka, masa depan hubungan Inggris–China ternyata ikut ditentukan oleh… sepak bola.
Di tengah pertemuan serius antara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden China Xi Jinping, suasana mendadak mencair ketika Xi tanpa sungkan mengaku sebagai penggemar berat Manchester United. Bukan cuma itu, Xi juga disebut hafal klub-klub Premier League lain seperti Crystal Palace (yang ia panggil cukup “Palace”), Arsenal, hingga Manchester City.
Starmer yang awalnya datang membawa agenda berat soal ekonomi, perdagangan, hingga sanksi, kabarnya langsung memanfaatkan momen tersebut. Sebuah bola pertandingan Arsenal vs Manchester United pun dijadikan “senjata rahasia” diplomasi dan diserahkan sebagai hadiah.
Alhasil, diplomasi kelas tinggi berubah rasa seperti obrolan di warung kopi pecinta bola.
Menurut laporan media internasional, pertemuan kedua pemimpin itu bahkan molor sekitar 45 menit dari jadwal. Bukan tak mungkin, sebagian waktunya habis untuk nostalgia Liga Inggris, gosip klub, dan mungkin juga nostalgia era kejayaan Setan Merah.
Di balik keakraban bernuansa bola ini, Inggris dan China sama-sama menggaungkan narasi besar: hubungan kedua negara sedang menuju fase “reset” alias mulai dipoles ulang setelah lama tegang.
Pemerintah Inggris menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah awal yang positif untuk memperbaiki hubungan, termasuk membahas isu sensitif seperti sanksi terhadap anggota parlemen Inggris, akses pasar, serta kerja sama ekonomi.
Namun di dalam negeri Inggris sendiri, reaksi publik terbelah. Ada yang menyambut hangat pendekatan “soft diplomacy” ala Starmer. Tapi tak sedikit pula yang menyindir, apakah cukup dengan bola dan obrolan klub, masalah pelik geopolitik bisa terselesaikan?
Di sisi lain, netizen internasional ramai berspekulasi:
Apakah Xi benar-benar fans MU garis keras?
Atau sekadar strategi halus untuk membuat tamu Inggris merasa “di rumah”?
Yang jelas, kisah ini kembali membuktikan satu hal: Premier League bukan sekadar liga sepak bola. Ia sudah menjelma jadi bahasa global, bahkan sanggup menyelinap ke ruang perundingan tingkat kepala negara.
Dari ruang rapat ke rumput hijau, dari sanksi ke sepak pojok — hubungan Inggris–China kini punya bumbu baru. Bukan cuma soal geopolitik, tapi juga… siapa klub favoritmu?
(Anton)



















































