SUARAINDONEWS.COM, Teheran – Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan membuka kembali jalur pelayaran di Strait of Hormuz secara terbatas bagi kapal tanker minyak. Namun, pembukaan jalur tersebut disebut disertai syarat transaksi perdagangan dilakukan menggunakan mata uang Chinese yuan.
Rencana ini disebut sebagai bagian dari langkah Teheran untuk mengatur ulang arus perdagangan energi global di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah serangan terhadap wilayahnya. Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait kebijakan tersebut.
Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz terjadi setelah eskalasi konflik antara Iran dan koalisi yang dipimpin United States dan Israel. Ketegangan tersebut memicu gangguan besar pada jalur perdagangan energi dunia.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal di selat strategis itu turun drastis dari ratusan kapal per hari menjadi hanya beberapa kapal dalam periode 24 jam terakhir.
Selain itu, Iran juga mengancam akan memperluas tekanan terhadap jalur maritim lain, termasuk Bab el-Mandeb Strait yang menjadi pintu masuk selatan menuju Red Sea.
Apabila gangguan meluas, dampaknya diperkirakan akan signifikan terhadap perdagangan global. Kedua selat tersebut merupakan rute utama pengiriman minyak dan berbagai komoditas antara kawasan Timur Tengah, Asia, dan Eropa.
Penutupan jalur ini juga memaksa kapal-kapal dagang memutar melalui Cape of Good Hope di Afrika. Rute alternatif tersebut dapat menambah waktu pelayaran hingga sekitar dua minggu dan meningkatkan biaya bahan bakar lebih dari satu juta dolar AS untuk setiap perjalanan.
Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga energi global serta memperbesar risiko ketidakstabilan ekonomi dunia dalam waktu dekat.
(Anton)




















































