SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Pergerakan mata uang Asia pagi ini kelihatan masih pecah kubu lawan dolar AS. Ada yang berhasil nguat, tapi nggak sedikit juga yang masih ketekan greenback.
Di tengah kondisi itu, rupiah tampil paling pede. Sampai pukul 09.20 WIB, rupiah menguat 0,24% ke level Rp16.890 per dolar AS. Ini sekaligus lanjutan tren positif setelah sehari sebelumnya juga ditutup menguat.
Bukan cuma rupiah, peso Filipina ikut nimbrung di barisan hijau dengan penguatan 0,19% ke level 59,11 per dolar AS. Mata uang tetangga juga kompak menguat tipis. Ringgit Malaysia naik 0,05% ke 4,04 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat 0,04% ke 1,28 per dolar AS.
Yuan China dan rupee India juga ikut-ikutan naik tipis masing-masing 0,03%. Yuan berada di kisaran 6,69 per dolar AS, sedangkan rupee India di 91,48 per dolar AS.
Tapi nggak semua Asia lagi happy. Baht Thailand justru jadi yang paling babak belur pagi ini, melemah 0,29% ke 31,29 per dolar AS. Won Korea menyusul dengan pelemahan 0,19% ke 1.467,8 per dolar AS. Dong Vietnam dan dolar Taiwan juga ikut melemah, sementara yen Jepang turun tipis ke level 158,39 per dolar AS.
Gerak mata uang Asia ini terjadi di tengah dolar AS yang cenderung stabil. Indeks dolar (DXY) pagi ini bergerak di sekitar level 98,78, setelah sehari sebelumnya sempat rebound dan ditutup menguat.
Penguatan dolar kemarin terjadi setelah tekanan jual akibat sentimen Sell America mulai mereda. Sebelumnya, pasar sempat panas gara-gara ancaman Presiden AS Donald Trump soal tarif terhadap Uni Eropa yang dikaitkan dengan isu Greenland.
Namun, tensi mulai turun setelah Trump menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil Greenland. Trump juga disebut sudah mencapai kerangka awal kesepakatan dengan NATO, meski detailnya masih abu-abu. Di sisi lain, Denmark tetap tegas menyebut tidak ada negosiasi soal penyerahan wilayah.
Meredanya drama geopolitik ini bikin pasar kembali agak tenang. Investor mulai balik lagi ke aset berisiko seperti saham, sementara minat ke aset aman seperti emas mulai berkurang. Kondisi risk-on seperti ini biasanya jadi angin segar buat mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri AS, pelaku pasar sekarang lagi nunggu data klaim pengangguran mingguan buat baca arah pasar tenaga kerja. Sementara itu, The Fed masih diperkirakan bakal menahan suku bunga di pertemuan pekan depan, meski pasar tetap berharap ada pemangkasan total sekitar 50 basis poin sampai akhir tahun.
Singkatnya, pagi ini rupiah lagi pegang kendali di Asia, sementara beberapa mata uang lain masih harus rela ketarik arus dolar AS.
(Anton)




















































