SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Perhatian serius diberikan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil DKI Jakarta, Achmad Azran, terhadap pemilihan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta. Ia berharap pemilihan Sekda dilakukan secara transparan dan tidak ada campur tangan pihak lain.
Pemilihan Sekda Provinsi DKI Jakarta akan dilakukan setelah Sekda saat ini, Marullah Matali, akan memasuki masa pensiun.
“Saya sangat memohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta agar Pemilihan Sekda dengan terbuka dan transparan agar kita semua bisa melihat rekam jejak calon Sekda baru. Ini jabatan vital dan sangat strategis di roda pemerintahan, jangan ada bohir-bohir atau Oligarki di belakang Sekda,”katanya, Jumat (28/11/2025), di Jakarta.
Senator yang akrab disapa Bang Azran ini menambahkan, posisi Sekda penting. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi pelanggaran dalam pemilihan.
“Dalam strukur ASN, Sekda ini jabatan tertinggi. Posisinya sangat penting. Bukan tidak mungkin ada pihak-pihak tertentu yang akan mendorong jagoan untuk menduduki posisi itu demi kepentingan tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pemilihan Sekda berpotensi menghadirkan oknum-oknum yang akan mempengaruhi pemilihan.
“Saya rasa bukan hal baru jika muncul isu jual-beli jabatan, atau nanti muncul aktor-aktor atau oknum-oknum yang akan mencoba mengatur proses pemilihan Sekda. Tolong DKI sebagai barometer tanah air harus punya integritas tinggi,” katanya.
Putra asli Betawi ini juga mewanti-wanti adanya campur tangan oligarki yang sarat akan kepentingan.
“Pak Presiden dan pak Gubernur harus memastikan seluruh proses pemilihan bersih dari campur tangan oligarki. Karena mereka memiliki kepentingan untuk memuluskan bisnisnya. Biasanya, oligarki bahkan siap menggelontorkan uang dalam jumlah besar agar sosok yang mereka usung bisa mengisi jabatan yang mereka inginkan,” tuturnya.
Bang Azran sendiri yakin Gubernur DKI, Pramono Anung, akan memilih calon Sekda sesuai harapan warga masyarakat Jakarta, tanpa ada campur tangan dari pihak pihak yang akan mengambil keuntungan pribadi atau golongan.
“Karena sangat disayangkan apabila Jakarta yang sudah memiliki gubernur dan wakil gubernur yang baik tetapi Sekdanya tidak baik,” katanya.
(Anton)




















































