SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Jadi ceritanya, PBB lagi-lagi buka suara soal kondisi Bumi, dan kali ini kabarnya kurang enak. Dunia disebut sudah masuk fase global water bankruptcy alias bangkrut air. Artinya simpel: air yang kita pakai sekarang jauh lebih cepat habis dibanding kemampuan alam buat ngisi ulang.
Dalam 50 tahun terakhir, sekitar 410 juta hektare lahan basah seperti rawa dan gambut hilang. Itu bukan angka kecil. Padahal, lahan-lahan ini ibarat tabungan air alami. Kalau tabungannya hilang, ya wajar kalau air bersih makin susah.
Menurut badan PBB yang ngurusin air, istilah “krisis air” sudah nggak cukup dramatis buat kondisi sekarang. Air sungai, danau, sampai air tanah terus disedot, dipolusi, dan lingkungannya dirusak. Ditambah perubahan iklim, lengkap sudah.
Tandanya juga kelihatan jelas. Danau-danau gede dunia makin mengecil, dan ada sungai yang sekarang cuma mengalir setengah tahun, sisanya kering dan nggak nyampe laut. Air tanah juga lagi megap-megap. Sekitar 70 persen akuifer yang dipakai buat minum dan irigasi diperas lebih banyak dari isinya.
Masalahnya makin ribet gara-gara Bumi makin panas. Sejak 1970, sekitar 30 persen gletser dunia sudah lenyap. Padahal, gletser itu sumber air musiman buat ratusan juta orang. Esnya hilang, airnya ikut ngilang.
Bos besar urusan air di PBB, Kaveh Madani, bilang memang belum semua negara bangkrut air. Tapi efeknya sudah terasa di semua benua. Kalau masih nganggep ini masalah sementara dan kebijakan terus ditunda, ujung-ujungnya bisa telat sadar.
Intinya, PBB pakai istilah “bangkrut air” bukan buat nakut-nakutin. Ini peringatan keras. Kalau manusia masih santai, boros air, dan cuek sama lingkungan, cerita soal air di masa depan bisa jadi gosip yang berubah jadi kenyataan pahit.
(Anton)




















































