SUARAINDONEWS. COM, Jakarta — Pemerintah akhirnya blak-blakan soal isi piring jamaah haji Indonesia tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkap secara terbuka bahwa biaya konsumsi jamaah haji dipatok hanya 40 Riyal Saudi per hari, atau setara Rp 181 ribu.
Angka tersebut mencakup tiga kali makan sehari—sarapan, makan siang, dan makan malam—selama jamaah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Jika dirinci, sarapan dihargai 10 Riyal, sementara makan siang dan malam masing-masing 15 Riyal.
“Ini sudah melalui proses efisiensi,” ujar Dahnil, seolah ingin menegaskan bahwa angka tersebut bukan asal hitung.
Namun publik langsung berhitung sendiri. Dengan asumsi kurs 1 SAR = Rp 4.531, maka jatah makan jamaah haji Indonesia di negeri paling mahal di Timur Tengah itu hanya sekitar Rp 60 ribuan per porsi. Murah atau pas-pasan? Itu soal persepsi.
Efisiensi atau Penghematan Berlapis?
Dahnil menyebut pemerintah bahkan berhasil menekan biaya makan siang dan malam dari sebelumnya 17 Riyal menjadi 15 Riyal lewat negosiasi dengan penyedia katering (masyariq). Meski begitu, ia memastikan kualitas, nilai gizi, dan gramasi makanan tetap aman.
Klaim ini jelas ingin meredam kekhawatiran lama jamaah soal menu berulang, porsi minim, hingga rasa yang “sekadar menggugurkan kewajiban”.
“Transparansi ini penting agar jamaah tahu haknya,” kata Dahnil.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal: kalau nanti makanannya mengecewakan, jamaah sudah tahu berapa ‘harga’ di balik nasi kotak tersebut.
Publik Diminta Ikut Mengawasi
Tak berhenti di konsumsi, pemerintah juga mulai membuka data biaya akomodasi dan standar hotel jamaah haji. Langkah ini disebut sebagai upaya membangun penyelenggaraan haji yang transparan dan akuntabel.
Namun di tengah mahalnya biaya hidup di Arab Saudi, angka Rp 181 ribu per hari tetap memancing nyinyir publik. Apalagi, ibadah haji dikenal sebagai perjalanan fisik berat yang menuntut asupan gizi optimal.
Kini pertanyaannya bukan lagi soal transparansi, tapi soal kecukupan.
Rp 181 ribu per hari di Tanah Suci—cukup untuk menguatkan ibadah, atau sekadar bikin jamaah bertahan hidup?
(Anton)




















































