SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) semakin menunjukkan perannya sebagai instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan arus investasi di berbagai daerah di Indonesia.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manangsang, mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian dari Prospera dan LPEM FEB UI, wilayah yang memiliki KEK mampu menarik investasi hingga 77 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK.
“Sebagai ilustrasi, apabila suatu wilayah tanpa KEK mampu menarik investasi sebesar Rp10 triliun, maka wilayah dengan KEK dapat menarik investasi sekitar Rp17 triliun hingga Rp18 triliun. Artinya, daya tarik investasi di wilayah KEK bisa meningkat hingga 77 persen dibandingkan daerah non-KEK,” ujar Rizal dalam Media Gathering di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, KEK dirancang untuk memberikan keunggulan kompetitif bagi investor melalui berbagai insentif serta kemudahan berusaha. Kebijakan tersebut membuat wilayah yang memiliki status KEK memiliki daya tarik investasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan biasa.
Tidak hanya berdampak pada peningkatan investasi, keberadaan KEK juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan kajian yang sama, wilayah dengan KEK mampu menciptakan lapangan kerja sekitar 4 persen lebih banyak dibandingkan wilayah non-KEK.
Bahkan, untuk penyerapan tenaga kerja langsung di dalam kawasan, angka tersebut meningkat secara signifikan.
“KEK mampu menyerap tenaga kerja langsung hingga 52 persen lebih besar,” tambah Rizal.
Kinerja Investasi KEK Terus Meningkat
Perkembangan investasi di KEK juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru, pada Triwulan IV 2025 investasi yang masuk ke kawasan KEK mencapai Rp21 triliun.
Sementara sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di seluruh KEK tercatat mencapai Rp82,5 triliun.
“Sepanjang 2025, berdasarkan data sementara, realisasi investasi mencapai Rp82,5 triliun. Hal ini menunjukkan kinerja KEK yang solid dan konsisten,” jelas Rizal.
Secara kumulatif hingga akhir 2025, total investasi yang masuk ke seluruh KEK di Indonesia telah mencapai sekitar Rp335 triliun. Selain itu, kawasan tersebut juga telah menyerap 248.459 tenaga kerja di berbagai daerah.
Dari sisi ekspor, kontribusi KEK juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, realisasi ekspor dari kawasan KEK mencapai Rp43,95 triliun, meningkat sekitar Rp21,93 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
25 KEK Jadi Pusat Pertumbuhan Baru
Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2012, KEK terus berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Saat ini terdapat 25 KEK yang tersebar di berbagai wilayah dengan total investasi akumulatif mencapai sekitar Rp336 triliun dan penyerapan tenaga kerja sekitar 249 ribu orang.
Rizal menjelaskan bahwa KEK di Indonesia mencakup berbagai sektor strategis, antara lain:
- 13 KEK sektor industri
- 6 KEK sektor pariwisata
- 2 KEK sektor kesehatan
- 2 KEK sektor pendidikan dan teknologi
- 1 KEK sektor digital
- 1 KEK sektor jasa lainnya (perawatan pesawat)
Saat ini tercatat 407 badan usaha telah beroperasi di dalam 25 KEK tersebut.
“Perkembangan KEK menunjukkan tren yang terus meningkat, khususnya dalam hal investasi dan penciptaan lapangan kerja,” kata Rizal dalam Media Gathering di Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta.
Dukung Target Indonesia Emas 2045
Rizal menegaskan bahwa KEK tidak hanya berfungsi sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai pusat investasi dan inovasi yang mendorong hilirisasi sumber daya alam, memperkuat daya saing ekspor, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, KEK diproyeksikan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Melalui pengembangan KEK, pemerintah menargetkan peningkatan investasi dan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional seiring upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Rizal.
Ia menambahkan bahwa pemerintah optimistis KEK akan terus berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari penciptaan lapangan kerja berkualitas, dukungan bagi UMKM, hingga pemerataan pembangunan antarwilayah.
“Komitmen kami adalah memastikan setiap kebijakan dan fasilitas yang diberikan benar-benar menghadirkan nilai tambah yang terukur bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.
(Anton)



















































