SUARAINDONEWS. COM, Jakarta — Dunia pendidikan Tanah Air lagi-lagi bikin heboh. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ternyata punya mimpi super besar: melahirkan anak-anak Indonesia yang kelak bisa menggenggam Hadiah Nobel. Dan yang bikin makin menarik, jalan menuju sana tidak cuma mengandalkan duit negara alias APBN.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, membongkar bahwa pendanaan pengembangan prestasi murid dibangun lewat banyak pintu. Mulai dari APBN, APBD, sampai kontribusi pihak swasta dan mitra nonpemerintah.
“APBN memang sudah mengalokasikan anggaran untuk program prestasi. Tapi kami tidak berjalan sendiri. Di daerah ada APBD yang mendukung kompetisi, dan yang ketiga adalah kontribusi dari berbagai pihak di luar pemerintah,” ungkap Irene.
Artinya, ekosistem pembinaan talenta nasional kini digarap rame-rame. Negara, daerah, hingga sektor swasta ikut turun tangan.
Targetnya Nggak Main-main: Nobel!
Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, Biyanto, terang-terangan menyebut harapannya agar anak-anak Indonesia suatu hari nanti bisa menjadi peraih Hadiah Nobel.
Harapan itu dituangkan dalam kebijakan baru lewat Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid, yang mulai berlaku sejak 17 Desember 2025. Aturan ini menggantikan regulasi lama, sekaligus memperluas cakupan pembinaan.
“Melalui Permen ini, mudah-mudahan pada saatnya kita bisa melahirkan anak-anak bangsa yang bisa meraih Hadiah Nobel,” ujar Biyanto.
Menariknya, manajemen talenta kini tak hanya fokus pada akademik seperti sains dan riset, tetapi juga nonakademik, mulai dari seni, budaya, hingga olahraga.
Cabor Olahraga Bakal ‘Masuk Sekolah’?
Nah, ini bagian yang bikin publik makin kepo. Biyanto menyebut ada wacana beberapa cabang olahraga (cabor) yang selama ini dibina Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan difokuskan pembinaannya lewat Kemendikdasmen.
“Beberapa cabang olahraga di Kementerian Olahraga diserahkan ke kita untuk kemudian akan kita fasilitasi proses pembinaannya,” jelasnya.
Namun, Kapuspresnas Irene meluruskan bahwa bukan berarti dialihkan sepenuhnya. Fokusnya adalah pembinaan atlet usia sekolah.
“Ini masih dalam pembahasan. Bukan dialihkan, tapi fokus pembinaan karena sasarannya di murid. Cabornya tetap dikerjakan bareng, cuma sasarannya anak-anak. Kemendikdasmen bisa support,” paparnya.
Dari Ruang Kelas ke Panggung Dunia
Jika skema ini berjalan mulus, Puspresnas akan menjadi “rumah besar” pembinaan talenta muda Indonesia, baik di jalur akademik maupun nonakademik.
Mimpi besarnya? Anak-anak Indonesia tak cuma jadi juara olimpiade, atlet dunia, atau seniman internasional, tapi juga sosok-sosok hebat yang menorehkan sejarah global.
“Rasanya belum pernah lahir dari bumi Nusantara kita peraih Hadiah Nobel. Mudah-mudahan investasi jangka panjangnya melahirkan anak-anak hebat yang bukan hanya mengharumkan daerahnya masing-masing, tapi juga nama negara,” tandas Biyanto.
Jadi, siap-siap saja. Bisa jadi, calon peraih Nobel Indonesia berikutnya saat ini masih duduk manis di bangku sekolah.
(Anton)



















































