SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Isu kenaikan harga hingga kekhawatiran kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan sembako menjelang Lebaran mulai bikin masyarakat resah. Namun Tito Karnavian langsung angkat suara dan meminta publik tetap tenang.
Menteri Dalam Negeri itu mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli kebutuhan pokok secara berlebihan. Menurutnya, aksi borong justru berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dan energi nasional.
“Jadi masyarakat tidak usah panic buying, karena justru akan mengganggu rantai pasok makanan. Pemerintah sudah menyiapkan skema untuk mengatasi persoalan harga dan pasokan,” kata Tito usai memimpin rapat koordinasi bersama kepala daerah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (11/3/2026).
Pemerintah memastikan stok kebutuhan pokok masih aman. Cadangan beras nasional tercatat mencapai sekitar 4 juta ton, sementara pasokan BBM juga disebut dalam kondisi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran.
Selain itu, Tito juga menilai masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 yang berada di kisaran 4,7 persen. Menurutnya, berbagai indikator ekonomi masih terkendali.
Dalam rapat koordinasi tersebut, Mendagri bahkan langsung menginstruksikan seluruh kepala daerah—mulai dari gubernur hingga wali kota—untuk segera melakukan rapat internal dengan distributor dan pelaku usaha guna memastikan pasokan pangan dan energi tetap lancar.
“Para kepala daerah segera rapat dan berkoordinasi bersama distributor serta pengusaha terkait kesiapan pasokan pangan,” tegas Tito.
Namun di sisi lain, suara dari parlemen juga ikut memberi peringatan agar komunikasi pemerintah tidak setengah-setengah. Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina, mengingatkan bahwa informasi soal cadangan BBM perlu dijelaskan secara utuh agar tidak memicu kepanikan publik.
Menurut Nevi, banyak masyarakat salah memahami informasi mengenai cadangan operasional BBM sekitar tiga minggu.
“Ketika masyarakat mendengar stok BBM hanya tersedia tiga minggu, sebagian langsung mengira akan terjadi kelangkaan. Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena panic buying sering dipicu oleh ketidakpastian informasi, psikologi massa, serta situasi geopolitik global yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap stabilitas pasokan energi.
Nevi mengingatkan, jika panic buying terjadi secara masif, kondisi itu justru dapat menciptakan kelangkaan buatan (artificial scarcity) yang mengganggu distribusi BBM dan memicu antrean panjang di SPBU.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat komunikasi publik yang transparan dan berbasis data, sekaligus memperketat pengawasan terhadap potensi penimbunan BBM di lapangan.
“Pengawasan terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM harus diperketat, terutama dalam situasi yang rentan memicu spekulasi,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya tensi isu ekonomi global dan geopolitik, pemerintah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang dapat memicu kepanikan pasar menjelang Lebaran.
(Anton)




















































