SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Dunia maya lagi-lagi bikin jantung deg-degan. Berdasarkan laporan Global Fraud Index 2025 yang dirilis oleh Sumsub, Indonesia resmi duduk manis di posisi kedua dari 112 negara sebagai negara paling rentan terhadap penipuan. Skornya tidak tanggung-tanggung, 6,53 dari 10. Bukan nilai ujian, tapi nilai kerentanan ketipu.
Posisi pertama ditempati oleh Pakistan. Indonesia menyusul tepat di belakangnya. Kalau ini lomba olahraga mungkin bisa dirayakan, tapi sayangnya ini daftar negara paling rawan jadi sasaran tipu-tipu digital.
Modusnya makin hari makin dramatis. Mulai dari phishing berkedok undangan nikah dan hadiah undian, telepon pura-pura jadi pihak bank dengan suara meyakinkan, sampai investasi bodong yang menjanjikan cuan instan tanpa kerja keras. Belanja online pun tak luput, diskon besar-besaran berujung paket kosong atau barang tak sesuai foto.
Yang bikin miris, rendahnya literasi keamanan digital disebut sebagai salah satu penyebab utama. Banyak masyarakat masih mudah percaya pada pesan mendesak, link asing, dan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Sementara itu, sistem pencegahan dan pengawasan dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kecepatan inovasi para pelaku kejahatan siber.
Sejumlah laporan lain juga menunjukkan tren yang tak kalah mencengangkan. Aduan penipuan digital terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan kerugian yang mencapai angka fantastis. Ada yang kehilangan tabungan, ada yang tertipu investasi, bahkan ada yang datanya disalahgunakan untuk pinjaman online.
Publik pun terbelah. Sebagian menyebut masyarakat perlu lebih waspada dan tidak gampang tergiur. Sebagian lain menilai negara harus memperkuat sistem perlindungan dan edukasi digital secara masif. Yang jelas, kasus demi kasus terus bermunculan, dan korbannya bukan lagi hitungan puluhan.
Peringkat ini seharusnya jadi alarm keras, bukan sekadar headline sesaat. Di tengah derasnya arus digitalisasi, satu klik bisa jadi awal petaka. Dan di era serba online ini, yang lengah sedikit saja bisa langsung jadi target berikutnya.
(Anton)




















































