SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Pemerintah Poland tengah mempertimbangkan langkah besar terkait pengelolaan cadangan emas nasional. Negara tersebut dikabarkan menyiapkan rencana penjualan sebagian cadangan emas guna mendanai peningkatan signifikan anggaran pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Eropa.
Langkah ini menjadi sorotan karena selama dua tahun terakhir bank sentral Polandia justru dikenal sebagai salah satu pembeli emas terbesar di dunia. Data dari World Gold Council (WGC) menunjukkan bank sentral Polandia aktif menambah cadangan emas secara signifikan dalam periode tersebut dan menjadi salah satu faktor yang menopang reli harga emas global.
Namun, situasi keamanan regional yang terus memanas—terutama akibat konflik berkepanjangan antara Russia dan Ukraine yang telah memasuki tahun keempat—mendorong pemerintah Polandia untuk mempertimbangkan opsi pendanaan baru bagi sektor pertahanan.
Selain konflik di Eropa Timur, meningkatnya ketegangan global juga dipicu oleh perang yang melibatkan Iran pada akhir Februari 2026, yang turut memperburuk situasi geopolitik internasional.
Gubernur bank sentral Polandia, Adam Glapinski, mengajukan proposal untuk menghimpun dana hingga US$13 miliar atau sekitar Rp219,7 triliun melalui penjualan sebagian cadangan emas negara. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung rencana pemerintah meningkatkan kapasitas militer secara signifikan.
Proposal tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Polandia, Karol Nawrocki, pada Rabu (4/6/2026). Presiden Polandia disebut tengah mencari alternatif pendanaan selain program pinjaman dari European Union yang nilainya mencapai US$174 miliar untuk pembelian senjata.
Sejumlah pejabat pemerintah Polandia mengkhawatirkan bahwa skema pinjaman tersebut dinilai mahal serta berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik dengan United States.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, bank sentral Polandia dapat memperoleh dana dengan menjual sebagian dari sekitar 550 ton cadangan emas yang saat ini dimiliki negara tersebut. Skema yang dipertimbangkan memungkinkan emas tersebut untuk dibeli kembali di masa mendatang.
Selain itu, sekitar US$3,25 miliar tambahan dapat dihimpun dari sumber pendapatan lain melalui bank sentral, sehingga total potensi pembiayaan tambahan untuk sektor pertahanan tahun ini diperkirakan mencapai US$16 miliar.
Dalam jangka panjang, nilai keseluruhan program pembiayaan tersebut bahkan dapat mencapai sekitar US$50 miliar, yang nilainya mendekati skema pinjaman pertahanan yang diusulkan Uni Eropa untuk dialokasikan kepada Polandia.
Opsi lain yang tengah dipertimbangkan adalah mengubah undang-undang guna memungkinkan bank sentral melakukan revaluasi cadangan emas, sehingga keuntungan dari kenaikan harga emas dapat direalisasikan dan dialokasikan untuk pembiayaan sektor pertahanan.
Gubernur bank sentral Adam Glapinski telah mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menyusun rencana berbasis cadangan emas, meskipun detail kebijakan tersebut belum diumumkan secara resmi.
Jika direalisasikan, langkah ini akan menjadi perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi Polandia. Selama beberapa tahun terakhir, bank sentral negara tersebut justru dikenal agresif menambah cadangan emas, termasuk dengan pembelian lebih dari 100 ton emas sepanjang 2024 hingga 2025.
Berdasarkan data internasional, Polandia saat ini memiliki sekitar 550 ton cadangan emas, menjadikannya salah satu negara dengan kepemilikan emas terbesar di dunia, meskipun masih berada di bawah negara-negara seperti United States, Germany, Italy, dan France.
Rencana tersebut kini menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi kebijakan cadangan emas global serta dinamika pasar emas internasional.
(Anton)




















































