SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Kehidupan pejabat negara setelah pensiun kerap menjadi bahan penasaran publik. Banyak yang membayangkan para mantan pejabat menikmati masa tua dengan nyaman, rumah mewah, dan fasilitas lengkap.
Namun, kisah Saifuddin Zuhri justru berjalan sebaliknya.
Mantan Menteri Agama Republik Indonesia itu pernah memilih menjalani hidup sederhana dengan berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta, demi menafkahi keluarga.
Sebuah pilihan hidup yang jauh dari gemerlap kekuasaan.
Dari Kursi Menteri ke Los Beras
Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama RI ke-10. Ia dilantik pada 2 Maret 1962 dan menjabat hingga 1967 pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.
Setelah tak lagi menjadi menteri, ia masih aktif di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU), lalu terpilih kembali menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971.
Namun seiring waktu, kondisi ekonomi keluarganya tidak seberuntung yang dibayangkan banyak orang.
Uang pensiun yang diterima dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di situlah Saifuddin Zuhri mengambil keputusan besar.
Diam-Diam Berdagang Demi Keluarga
Tanpa banyak cerita kepada publik, Saifuddin Zuhri mulai berdagang beras di Pasar Glodok.
Ia berangkat pagi, pulang siang, layaknya pedagang lain.
Bahkan, keluarganya sendiri sempat tidak mengetahui aktivitas tersebut.
Hingga suatu hari, anaknya merasa curiga dengan rutinitas sang ayah yang selalu pergi pagi dan baru pulang beberapa jam kemudian.
Setelah ditelusuri, barulah terungkap bahwa mantan menteri itu memilih berdagang beras demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Tidak ada rasa malu.
Tidak ada gengsi.
Yang ada hanyalah tanggung jawab.
Prinsip Hidup: Jabatan Bukan Alat Memperkaya Diri
Kisah ini sejalan dengan prinsip hidup Saifuddin Zuhri semasa menjabat.
Ia dikenal sebagai sosok yang tegas menjaga integritas dan menolak menggunakan jabatan untuk memperkaya diri.
Bagi Saifuddin, jabatan adalah amanah, bukan tangga menuju kekayaan.
Ketika amanah itu selesai, ia kembali menjadi rakyat biasa.
Dan saat kesulitan ekonomi datang, ia memilih bekerja, bukan mengeluh.
Tamparan Moral bagi Zaman Sekarang
Di tengah maraknya kabar pejabat terseret korupsi, gaya hidup mewah, dan harta melimpah, kisah Saifuddin Zuhri terasa seperti tamparan moral.
Seorang mantan menteri rela berkeringat di pasar.
Bukan untuk pencitraan.
Bukan untuk sensasi.
Melainkan demi keluarga.
Warisan yang Tak Tertulis
Saifuddin Zuhri mungkin tidak meninggalkan warisan berupa istana, rekening jumbo, atau bisnis besar.
Namun ia meninggalkan warisan yang jauh lebih mahal:
Keteladanan.
Tentang kejujuran.
Tentang tanggung jawab.
Tentang martabat manusia yang tidak diukur dari jabatan, melainkan dari sikap.
Dari kursi menteri hingga los beras di pasar, perjalanan hidup Saifuddin Zuhri menunjukkan satu hal:
Kemuliaan seseorang tidak terletak pada seberapa tinggi jabatan yang pernah ia duduki, melainkan pada seberapa jujur ia menjalani hidup setelah jabatan itu pergi.
(Anton)




















































