SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Suasana Parle Resto, Senayan Park, Jakarta, Minggu (15/2/2026), mendadak jadi sorotan. Bukan karena drama selebritas, melainkan peluncuran dan bedah buku berjudul “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” yang langsung menyedot perhatian para tokoh nasional.
Acara ini menghadirkan penulis buku, Joseph Osdar, wartawan senior yang malang melintang meliput Istana sejak era Soeharto hingga Joko Widodo. Sosok yang jadi pusat perhatian? Tak lain adalah Bambang Soesatyo atau Bamsoet, yang juga menjadi narasumber utama dalam buku tersebut.
Dalam suasana hangat namun penuh makna, Bamsoet blak-blakan memuji gaya kepemimpinan Prabowo Subianto yang disebutnya mengedepankan “politik senyap” — tanpa panggung, tanpa sensasi, tanpa drama berlebihan.
“Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” ujar Bamsoet mengutip filosofi Prabowo yang langsung menjadi perbincangan hangat di lokasi acara.
Kisah Lama Terkuak, Dari Cijantung hingga Istana
Yang bikin acara makin menarik, Osdar membocorkan bahwa perkenalan Bamsoet dengan Prabowo sudah terjalin sejak 1986, saat Prabowo masih menjabat Danjen Kopassus di Cijantung. Saat itu, Bamsoet masih wartawan muda yang meliput dinamika militer.
Prabowo digambarkan bukan “jenderal salon”, melainkan sosok dengan pengalaman tempur nyata, mulai dari Operasi Seroja di Timor Timur hingga operasi penyelamatan tim ekspedisi Lorentz di Papua pada 1996.
Tak hanya soal militer, Bamsoet juga mengungkap sisi personal Prabowo yang disebutnya sangat memperhatikan keluarga prajurit yang gugur dalam tugas. Cerita-cerita inilah yang membuat buku ini terasa lebih emosional, bukan sekadar narasi politik formal.
Bukan Buku Glorifikasi, Tapi Refleksi
Osdar menegaskan, buku ini bukan glorifikasi tokoh. Ia menyebutnya sebagai refleksi tentang bagaimana politik sesungguhnya bekerja — sering kali dalam ruang sunyi dan keputusan yang tak selalu populer.
Bamsoet pun menekankan bahwa kekuasaan adalah alat, bukan tujuan. “Pemimpin itu merangkul, bukan memukul. Memberi solusi, bukan mencari simpati,” tegasnya, yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
Hadirnya Tokoh-Tokoh Nasional
Acara ini juga dipenuhi nama besar yang membuat suasana makin bergengsi. Terlihat hadir pakar tata negara Jimly Asshiddiqie, pengamat politik Rocky Gerung, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, hingga pengusaha Anindya Bakrie.
Nama-nama lain seperti Setya Novanto, Muhammad Iriawan, dan Suryopratomo juga tampak menyemarakkan acara.
Tak heran, peluncuran buku ini terasa lebih seperti “gathering elite nasional” ketimbang sekadar bedah buku biasa.
Politik Akal Sehat Jadi Sorotan
Dalam diskusi, Bamsoet juga menyinggung sejumlah langkah Prabowo yang sempat mengejutkan publik, termasuk kebijakan abolisi dan amnesti terhadap sejumlah tokoh politik. Namun, menurutnya, langkah tersebut adalah bagian dari menjaga keseimbangan politik nasional.
Ia menegaskan bahwa demokrasi bukan soal siapa paling keras bersuara, melainkan siapa paling mampu mengelola perbedaan.
Peluncuran buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” pun menjadi semacam panggung refleksi — bahwa di balik dinamika politik yang sering panas di permukaan, ada strategi senyap yang bekerja menjaga stabilitas.
(Anton)




















































