SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Kawasan Wisata Kota Tua Jakarta belakangan bukan cuma ramai oleh turis dan konten kreator, tapi juga oleh sebuah tugu yang diam-diam jadi bahan bisik-bisik pengunjung. Namanya Tugu Penurunan Tanah Jakarta. Ukurannya memang mungil, tapi pesannya bikin dahi berkerut.
Berdiri tegak di Jembatan Kali Besar, Pinangsia, Taman Sari, tugu ramping ini tampil kontras dengan bangunan kolonial Belanda di sekitarnya yang megah dan penuh sejarah. Kalau gedung-gedung tua itu seolah pamer kejayaan masa lalu, tugu ini justru seperti membongkar “aib lama” Jakarta: tanahnya pelan-pelan turun.
Dari kejauhan, banyak yang mengira tugu ini cuma instalasi seni. Tapi begitu didekati, pengunjung langsung terdiam. Tugu setinggi 4,5 meter ini menggambarkan penurunan permukaan tanah Jakarta selama 46 tahun, sejak 1974 hingga 2020. Singkatnya, Jakarta bukan cuma macet—tapi juga ambles.
Di tubuh tugu, terpampang tiga papan biru yang bikin merinding.
Bagian atas menandai permukaan tanah Jakarta Utara tahun 1974,
bagian tengah untuk Jakarta Barat,
dan bagian bawah untuk Jakarta Timur.
Semakin ke bawah, semakin terasa pesan simboliknya: Jakarta terus turun, sedikit demi sedikit.
Meski kecil dibanding gedung-gedung di Kota Tua, tugu berbahan kaca dan plastik ini justru sukses menyedot perhatian. Banyak wisatawan berhenti, membaca, lalu saling melirik—seolah baru sadar kalau ibu kota punya masalah serius yang selama ini jarang dibahas di obrolan santai.
Yang bikin tugu ini makin berkelas, bagian bawahnya dilengkapi keterangan dalam tiga bahasa sekaligus: bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan huruf braille. Pesannya jelas, ini bukan isu sepele dan semua orang perlu tahu.
Di balik kemunculannya, tugu ini bukan proyek sembarangan. Ia dibangun lewat kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, dan JICA dari Jepang. Bahkan, proyek ini juga jadi ajang transfer teknologi untuk membantu Indonesia menangani penurunan tanah.
Di tengah tren foto estetik dan wisata sejarah Kota Tua, Tugu Penurunan Tanah Jakarta hadir seperti tamu tak diundang—sunyi, sederhana, tapi menampar kesadaran publik.
Bukan gosip selebritas, tapi fakta kota yang pelan-pelan tenggelam.
Kecil bentuknya, besar dampaknya.
Dan kini, Jakarta tak bisa lagi pura-pura tak tahu.
(Anton)




















































