SUARAINDONEWS. COM, Gresik — Investasi besar senilai USD 600 juta atau sekitar Rp10,2 triliun resmi masuk ke Indonesia melalui pembangunan pabrik melamin pertama dan terbesar di dalam negeri di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Rabu (8/4). Proyek ini dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology sebagai bagian dari percepatan hilirisasi industri kimia nasional.
Groundbreaking proyek dilakukan di Gresik dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II tahun 2027. Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi melamin hingga 120.000 ton per tahun (TPA) dengan rantai industri terintegrasi berbasis gas alam.
Pada tahap awal, fasilitas ini akan memproduksi sekitar 800 ton per hari amonia, 1.500 ton per hari urea, dan 200 ton per hari melamin. Produk turunan lain seperti amonium nitrat juga akan dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan proyek tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat daya saing industri nasional.
“Proyek ini mencerminkan komitmen kuat dalam mempercepat hilirisasi dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujarnya.
Pembangunan pabrik ini juga sejalan dengan kebijakan hilirisasi dalam RPJMN 2025–2029, yang menempatkan penguatan kawasan industri dan KEK sebagai prioritas utama. KEK Gresik sendiri ditetapkan sebagai kawasan prioritas nasional untuk mendorong ekspor dan pemerataan pembangunan wilayah.
Secara nasional, kinerja KEK menunjukkan tren positif. Hingga 2025, realisasi investasi kumulatif mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249 ribu orang. Khusus KEK Gresik, investasi tercatat sebesar Rp105,4 triliun atau sekitar 31% dari total investasi KEK nasional, dengan penyerapan sekitar 46 ribu tenaga kerja.
Di tingkat daerah, sektor manufaktur juga menjadi motor ekonomi di Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 31,32% terhadap perekonomian wilayah. Dalam lima tahun terakhir, tingkat kemiskinan di Kabupaten Gresik turun dari 8,00% menjadi 5,47%.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut proyek tersebut memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pusat manufaktur nasional.
“Jawa Timur menyumbang hampir seperempat output manufaktur nasional. Momentum ini harus dijaga agar daya saing terus meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah pusat dan daerah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan KEK Gresik, baik dari sisi infrastruktur maupun kebijakan industri.
Masuknya investasi ini dinilai mempertegas meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia, sekaligus mendorong percepatan hilirisasi industri kimia nasional dan penciptaan lapangan kerja baru.
(Anton)




















































