SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin geger. Kali ini, ia ngamuk di media sosial dan melontarkan ancaman keras ke Iran soal penutupan Selat Hormuz.
Dalam unggahannya, Trump bahkan pakai bahasa yang super kasar dan meledak-ledak.
“Buka selat sialan itu… atau kalian akan tinggal di neraka,” tulis Trump, Minggu (5/4/2026).
Gaya bicaranya yang “ngegas” ini langsung bikin dunia internasional geleng-geleng kepala.
Ini bukan pertama kalinya Trump ngancam. Sebelumnya, pada 21 Maret lalu, ia kasih ultimatum 48 jam ke Iran.
Isinya? Kalau Selat Hormuz nggak dibuka, Amerika siap menghajar infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik.
Tapi uniknya, tenggat waktu itu malah molor terus. Dari 48 jam, jadi 5 hari, lanjut 10 hari, dan sekarang nambah lagi.
Netizen +62 mungkin bakal bilang: “Ini deadline apa karet, sih?”
Alih-alih panik, Iran justru santai. Bahkan, juru bicara militernya, Ebrahim Zolfaghari, sempat nyeletuk pedas.
“Hey Trump! You’re fired.”
Kalimat singkat, tapi nyelekit. Ibaratnya, bukannya takut, Iran malah balik ngeledek.
Walaupun ramai disebut “ditutup”, faktanya Selat Hormuz nggak benar-benar dikunci total.
Iran cuma “milih-milih” siapa yang boleh lewat.
Yang kena blokir:
- Amerika Serikat
- Israel
- Sekutu dekatnya
Tapi yang masih boleh lewat:
- China
- Rusia
- India
- Malaysia
- dan beberapa negara Asia lainnya
Bahkan kapal dari Jepang, Prancis, dan Italia yang sempat dilarang, sekarang sudah dikasih jalan lagi.
Jadi ini lebih kayak “portal tol selektif” daripada ditutup total.
Selat Hormuz itu bukan selat biasa. Ini jalur penting buat kirim minyak ke seluruh dunia.
Kalau sampai benar-benar ditutup total:
- Harga BBM bisa melonjak
- Ekonomi global bisa goyang
- Konflik bisa makin panas
Makanya, dunia sekarang lagi nontonin situasi ini kayak nonton final bola—deg-degan tapi nggak bisa berhenti lihat.
Situasi antara AS dan Iran sekarang ibarat kompor yang apinya sudah besar, tapi belum sampai meledak.
Trump makin keras, Iran makin santai tapi nyolot.
Pertanyaannya sekarang:
ini cuma perang kata-kata… atau bakal jadi perang beneran?
Kita tunggu saja.
(Anton)




















































