SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Intan Jaya, Konflik bersenjata di Papua kembali memanas. Kali ini, TNI tampil sebagai “sutradara aksi” dalam episode terbaru drama berseri bertajuk “Operasi Kejar OPM.” Lokasi syuting? Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah. Jumlah korban? 18 orang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tewas dalam baku tembak, Rabu (14/5).
Operasi ini bukan aksi dadakan. Ini bagian dari agenda serius – dan bisa dibilang sangat bergaya militer – yang dijalankan oleh Koops Habema, sebuah komando gabungan elite bentukan Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto. Dan buat yang penasaran, “Habema” bukan nama karakter sinetron. Itu singkatan dari “Harus Berhasil Maksimal”. Iya, serius. Dan juga nama danau di Papua. Multi-fungsi.
Sterilisasi ala TNI: Bebas OPM, Bebas Drama?
Menurut Letkol Iwan Dwi, Dansatgas Media Koops Habema, pasukan TNI berhasil menguasai dua wilayah penting di Sugapa – Sugapa Lama dan Kampung Bambu Kuning – yang sebelumnya disebut jadi markas kelompok OPM pimpinan Daniel Aibon Kogoya, Undius Kogoya, dan Josua Waker. Nama-nama ini memang sudah akrab di daftar DPO.
“Kami berhasil mensterilkan wilayah tersebut dari kehadiran kelompok separatis bersenjata,” kata Letkol Iwan dalam keterangan resmi, Kamis (15/5).
Pasukan juga tak langsung pulang leyeh-leyeh. Mereka masih disiagakan di titik-titik strategis, berjaga-jaga kalau-kalau ada “episode lanjutan” dari kelompok bersenjata lainnya.
Apa Sih Koops Habema Itu?
Untuk yang baru dengar: Koops Habema bukan nama grup musik reggae Papua. Ini satuan gabungan elit dari TNI AD, AL, dan AU yang dibentuk untuk mengatasi konflik Papua dengan pendekatan lebih terorganisir dan tersentralisasi.
Tujuannya? Menyatukan cara kerja TNI dan Polri, biar nggak seperti dua band yang main di panggung yang sama tapi lagunya beda-beda.
“Strategi saya adalah smart power, gabungan dari soft power, hard power, dan diplomasi militer,” kata Jenderal Agus Subiyanto di Rapim TNI-Polri 2024, (28/2), sambil meyakinkan bahwa Koops Habema adalah implementasi nyata dari konsep itu.
“Koops ini diharapkan bisa mengintegrasikan pola operasi TNI dan Polri agar penanganan konflik lebih efektif,” lanjutnya penuh harap.
Smart Power, Tapi Masih Pakai Senjata?
Strategi smart power memang terdengar canggih—kayak nama fitur di HP. Tapi di lapangan, suara tembakan tetap jadi soundtrack utamanya. Operasi militer seperti ini terus berlangsung, sementara rakyat Papua sendiri masih bergelut dengan akses pendidikan, kesehatan, dan keadilan.
Namun, yang jelas, dengan jumlah korban 18 orang, TNI menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pasukan penonton. Mereka pemain utama. Dan di balik jargon “Harus Berhasil Maksimal”, tersimpan pesan keras bahwa negara tidak sedang bermain-main.
Setiap operasi militer di Papua selalu membawa dampak besar – baik secara keamanan maupun sosial. Di tengah segala jargon dan operasi bersandi keren, yang diharapkan publik sebenarnya sederhana: Papua aman, damai, dan manusiawi. Tapi entah kenapa, itu masih jadi skenario yang terus tertunda produksinya.
(Anton)




















































