SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Hidayat Nur Wahid, MA, mendorong Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) untuk semakin menguatkan kiprah melalui program-program yang efektif dalam menyelamatkan generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, dari berbagai tantangan serius seperti buta huruf Al Quran, darurat kejahatan seksual terhadap anak, judi online, narkoba, tawuran pelajar, hingga kriminalitas. Upaya tersebut dinilai krusial untuk memastikan Indonesia mampu memanen bonus demografi positif pada 2045.
“Karena itu, JPRMI tidak cukup hanya fokus pada persoalan tajwid, tetapi juga harus efektif memberantas buta huruf Al Quran, memahami, dan mengamalkan nilai-nilainya. Selain itu, penting menginisiasi aktivitas sosial, olahraga, kursus-kursus, serta kegiatan alternatif yang positif bagi Gen Z, termasuk yang terkait dengan media sosial dan kecerdasan buatan (AI),” ujar Hidayat Nur Wahid saat menerima audiensi delegasi JPRMI di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Menurutnya, beragam persoalan yang menjerat Gen Z—mulai dari kejahatan seksual terhadap anak, judi online, narkoba, hingga tindak kriminal ekstrem—merupakan masalah sosial yang harus diatasi secara kolektif. “Ini adalah tanggung jawab sosial sekaligus peluang besar bagi JPRMI untuk berkiprah lebih kuat,” tegasnya.
Delegasi JPRMI yang dipimpin Otong Somantri beraudiensi untuk mengundang Hidayat Nur Wahid sebagai narasumber dalam Muktamar dan Konsolidasi Nasional JPRMI yang direncanakan berlangsung pada April 2026. Dalam pertemuan tersebut, JPRMI juga memaparkan berbagai program organisasi, termasuk keterlibatan langsung dalam penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera.
Hidayat Nur Wahid, yang akrab disapa HNW, mengapresiasi konsistensi JPRMI dalam menjaga kepedulian terhadap Gen Z melalui pendekatan kemasjidan dan keremajaan. Menurutnya, upaya ini harus terus dikembangkan secara serius, mengingat Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam pembinaan generasi muda.
Ia mencontohkan sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak, seperti peristiwa di Medan ketika seorang siswi kelas VI SD membunuh ibu kandungnya akibat terpengaruh game bermuatan kekerasan, serta kasus anak yang membunuh ayahnya karena kekerasan dalam rumah tangga. “Belum lagi laporan KPAI terkait darurat kejahatan seksual terhadap anak, termasuk yang menimpa Gen Z dan Generasi Alpha,” ujarnya.
Di sisi lain, HNW menyoroti tingginya angka buta huruf Al Quran. Data Kementerian Agama menyebutkan lebih dari 70 persen umat Islam buta huruf Al Quran, sementara Dewan Masjid Indonesia (DMI) mencatat sekitar 68 persen. Bahkan survei pada mahasiswa Fakultas Agama Islam menunjukkan sekitar 60 persen belum mampu membaca Al Quran dengan baik.
“Jika tidak bisa membaca Al Quran, bagaimana hidayah Allah akan datang? Karena itu, salah satu pencegah utama kejahatan seksual, judi online, narkoba, dan kriminalitas adalah pencerahan dari kitab suci. Sudah sangat tepat jika JPRMI memaksimalkan kolaborasi dengan takmir masjid, remaja masjid, majelis taklim, dan organisasi sejenis untuk menghadirkan aktivitas masjid yang menarik dan solutif bagi anak muda,” jelasnya.
HNW menegaskan, masjid merupakan sarana efektif untuk menyediakan alternatif kegiatan yang positif dan menyenangkan bagi remaja. “Di masjid mereka punya komunitas, tidak sendirian, dan terbebas dari narkoba, judi online, maupun kejahatan lainnya,” katanya.
Upaya tersebut, lanjut HNW, sangat penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Mengutip Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln, ia menyatakan bahwa masa depan bangsa 20 tahun ke depan ditentukan oleh kondisi 20 tahun sebelumnya.
“Apa yang kita tanam sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita memanen bonus demografi positif atau justru bonus demografi negatif,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika generasi muda dibiarkan menjadi korban judi online, kekerasan seksual, game online, dan narkoba, maka hasilnya akan buruk. “Alih-alih Indonesia Emas, yang muncul justru Indonesia yang lemas dan jauh dari cita-cita Proklamasi dan Reformasi. Ini yang harus kita waspadai dan koreksi bersama,” pungkas HNW.
Pernyataan tersebut disambut antusias oleh jajaran pimpinan JPRMI yang hadir dalam audiensi tersebut.
(Anton)




















































