SUARAINDONEWS. COM, Jakarta — Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A. (HNW) menyambut baik Komunitas Majlis Taklim yang terus mengkonsolidasi kegiatan dan potensinya, seperti yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Majlis Taklim se Jakarta dan Sekitarnya yang bahkan sudah menghimpun keanggotaan lebih dari 380 Majlis Taklim.
Hal ini disampaikan oleh HNW saat menerima kunjungan dari Forum Komunikasi Majlis Taklim yang dipimpin oleh Buya KH Reza Zulkifli, di ruang kerja Wakil Ketua MPR, di Gedung Nusantara III lt 9, pada 7 Januari 2026.
HNW menegaskan hal itu karena posisi Majlis Taklim yang terus makin berkembang yang membuktikan penerimaan Masyarakat luas, tapi sekaligus juga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat yang memang sangat memerlukan hadirnya komunitas Majlis Taklim beserta aktifitas2nya yang sangat diperlukan oleh masyarakat yang sekarang banyak keresahan karena berbagai laku melanggar hukum yang terus terjadi di masyarat seperti judi online, narkoba, tawuran, kejahatan seksual, kdrt bahkan meningkatnya angka perceraian, dan penyebaran hoax maupun ujaran kebencian yang bisa mengadudomba dan hadirkan disharmoni di antara sesama warga.
Sementara masyarakat juga diajak oleh Pemerintah untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan panen bonus demografi positif, hal yang akan sulit terwujud bila penyakit2 masyarakat seperti tersebut di atas tidak segera dikoreksi/diperbaiki secara bersama-sama, termasuk bersama Majlis Taklim apalagi yg sudah terhimpun dan terkonsolidasi dengan baik sebagaimana yang dicontohkan oleh Forum Shilaturrahim Majlis Taklim ini.
Oleh karena itu HNW menyabut baik undangan dari FSMT untuk hadir dalam acara Nasional mereka. Karenanya HNW juga mengingatkan pentingnya Majlis Taklim untuk meningkatkan selain konsolidasi kedalam, juga konsolidasi keluar organisasi, untuk bisa memaksimalkan potensi konsolidasi jaringan Majlis Taklim yang berada di banyak wadah, sehingga terjadi saling mengisi dan saling menguatkan. Termasuk saling belajar dari keunggulan yang dimiliki olh suatu Komunitas Majlis Taklim baik dalam kurikulum Majlis Taklim serta kegiatan sosialnya. Seperti yg dicontohkan olh Majlis Taklim yang mengelola Masjid Jogokaryan di Yogyakarta.
“Majlis Taklim hampir pasti identik dengan Masjid atau jemaah Masjid, itu artinya Majlis Taklim mempunyai posisi sentral ditengah Umat yang sangat memerlukan pendampingan bahkan bimbingan atau solusi atasi berbagai permasalahan serta maksimalisi potensi yang mereka miliki agar makin luaslah jangkauan iman dan penerjemahannya dalam amal sholih,” ujarnya.
Untuk itu HNW juga mengingatkan bahwa kehadiran tokoh publik seperti pimpinan Majlis Taklim di tengah masyarakat penting terus dilakukan secara alami dan berkelanjutan, bukan hanya musiman.
HNW mengungkapkan pentingnya Majlis Taklim terus berupaya menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan masyarakat di berbagai organisasi dan diberbagai daerah, termasuk yang di Sumatera khususnya Aceh. Apalagi saat mereka sedang terkena musibah seperti sekarang ini. Komunitas Majlis Taklim juga penting peduli selain sebagai pengamalan terhadap materi pengajian, juga penguatan ukhuwah Islamiyah bahkan ukhuwah Insaniya wa basyariyah.
“Memang tidak mungkin kita sendiri bisa selesaikan semua masalah. Tetapi kalau kita komitmen membantu sejauh yang bisa kita bantu, maka itu akan memberikan dampak positif yang diperlukan oleh kita juga oleh mereka. Yang belum bisa, kita bisa komunikasikan ke jejaring atau para mitra. Proposal terkait pesantren, masjid, madrasah bisa disampaikan oleh Majlis Taklim ke Kementerian Agama atau Kementerian Sosial,” jelasnya.
Lebih lanjut, HNW menekankan pentingnya Majlis Taklim untuk memaksimalkan kondisi konstitusional terkait peningkatan nilai iman, takwa, dan akhlak mulia yang kini secara eksplisit tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasca reformasi. Agar dengan demikian kecerdasan bangsa tidak boleh dilepaskan dari fondasi spiritual dan moral, hal yang pasti sejalan dengan tujuan dan kegiatan Majlis Taklim.
“Konstitusi kita menegaskan pentingnya iman, takwa, dan akhlak mulia. Ini harus terus dijaga agar kemajuan tidak menafikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengajak semua pihak untuk menjaga persatuan umat, termasuk dalam perbedaan praktik ibadah. Menurutnya, substansi ketakwaan jauh lebih penting dibandingkan perdebatan teknis yang tidak esensial.
“Yang perlu dipermasalahkan bukan Jumatan dengan satu atau dua adzan, tapi yg justru perlu dipermasalahkan adalah mereka yang tidak mau datang ke masjid bahkan hanya untuk sholat Jumat sekalipun,” tegasnya.
HNW berpesan agar majelis taklim seharusnya menjadi ruang edukasi dan pemersatu umat, bukan arena polemik yang membingungkan masyarakat awam.
“Majelis taklim itu untuk membuat umat makin cinta masjid, cinta pengajian, cinta silaturahim. Jangan dikotori dengan polemik yang membuat perpecahan, permusuhan atau antipati pada kegiatan kemasjidan dan keislamana secara umum,” pungkasnya.
Pimpinan FSMT menyambut baik saran dari HNW, apalagi ketika HNW mengabulkan permintaan mereka unt berkenan menjadi Dewan Penasehat Forum Shilaturrahim Majlis Taklim.
(Anton)




















































