SUARAINDONEWS. COM, Washington, D.C. – Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan global menyusul dinamika terbaru di United States. Putusan hukum yang membatalkan sejumlah kebijakan tarif sebelumnya di negara tersebut diikuti rencana penerapan tarif impor global baru sebesar 10 persen oleh Presiden Donald Trump.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia menghormati seluruh proses politik dan hukum yang berlangsung di AS, sembari memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi.
“Kita siap menghadapi semua kemungkinan. Kita hormati dinamika yang terjadi dan terus memantau perkembangan,” ujar Presiden Prabowo dalam keterangannya di Washington, D.C..
Menurut Presiden, skema tarif global 10 persen masih berada dalam batas yang dapat dikelola dan bahkan membuka peluang penyesuaian strategi dagang Indonesia agar semakin adaptif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia tengah mengupayakan agar tarif nol persen bagi produk unggulan nasional tetap berlaku sebagaimana tercantum dalam kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang telah ditandatangani kedua negara.
Indonesia secara khusus meminta pengecualian tarif untuk komoditas strategis berdaya saing tinggi seperti kopi, kakao, serta berbagai produk agrikultur lainnya yang berkontribusi signifikan terhadap ekspor nasional dan kesejahteraan petani.
Selain sektor pertanian, Indonesia juga mengusulkan keberlanjutan tarif nol persen bagi sejumlah rantai pasok industri prioritas, termasuk:
- Elektronik dan komponen manufaktur,
- Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya,
- Tekstil dan produk pakaian jadi,
- Berbagai sektor hilirisasi bernilai tambah.
Kesepakatan ART memberikan ruang ratifikasi selama 60 hari, sehingga kedua negara masih memiliki waktu untuk melakukan penyesuaian teknis sejalan dengan perkembangan kebijakan terbaru. Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi berbagai skenario bersama United States Trade Representative sebelum penandatanganan perjanjian.
“Jika tarif umum diberlakukan 10 persen, maka yang sudah disepakati nol persen kita minta tetap. Ini penting untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia,” ujar Airlangga.
Pemerintah optimistis, melalui diplomasi ekonomi yang terukur dan strategi diversifikasi pasar, stabilitas perdagangan Indonesia akan tetap terjaga. Momentum ini juga dipandang sebagai peluang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus mempercepat transformasi industri berbasis nilai tambah.
Tentang Langkah Ke Depan
Pemerintah Indonesia akan terus:
- Mengawal implementasi perjanjian dagang bilateral agar tetap menguntungkan kepentingan nasional.
- Memastikan produk unggulan Indonesia memperoleh akses pasar optimal.
- Menyiapkan strategi mitigasi terhadap perubahan kebijakan global.
- Memperkuat koordinasi dengan pelaku industri dan eksportir nasional.
Dengan pendekatan adaptif dan diplomasi aktif, Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra dagang strategis yang tangguh di tengah dinamika ekonomi dunia.
(Anton)



















































