SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Narasi tentang Swedish Sex Federation kembali ramai dibicarakan, terutama terkait klaim bahwa mereka menyelenggarakan pelatihan, sertifikasi, hingga kompetisi seks sebagai olahraga.
Dalam pernyataan resminya, SSF menyebut diri sebagai organisasi yang mengedukasi dan melatih anggotanya melalui pendekatan teori dan praktik, dengan melibatkan tenaga profesional seperti seksolog, psikolog, dan terapis. Mereka juga mengklaim sebagai pihak pertama yang menginisiasi konsep “kejuaraan seks dunia”.
SSF menekankan bahwa aktivitas yang mereka dorong bertujuan menciptakan ruang yang aman, edukatif, dan setara bagi laki-laki dan perempuan. Mereka menyatakan menolak dominasi gender dan mendorong kesetaraan dalam relasi, termasuk dalam konteks seks sebagai aktivitas yang disebut mereka sebagai “olahraga”.
Dalam keterangan tertulisnya, SSF juga menyoroti isu global terkait stigma terhadap perempuan dan seksualitas. Mereka mengutip data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai jumlah negara di dunia, serta menilai belum adanya sistem pendidikan formal yang membahas seks dan hubungan secara komprehensif.
“Tidak ada negara yang menggunakan anggaran publik untuk mendidik masyarakat tentang cinta dan seks sebagai bagian dari kehidupan yang damai,” tulis SSF dalam pernyataannya.
Organisasi ini juga mengklaim ingin meningkatkan standar edukasi seks melalui pelatihan berbasis anatomi, komunikasi, hingga keamanan psikologis. Mereka menyoroti bahwa sebagian perempuan di dunia belum mendapatkan pemahaman yang memadai terkait tubuh dan kesehatan seksualnya.
Namun, penting dicatat bahwa keberadaan dan klaim Swedish Sex Federation tidak diakui secara resmi oleh otoritas olahraga di Swedia. Sejumlah laporan media internasional sebelumnya juga menyebut bahwa narasi mengenai “kompetisi seks” di Swedia sempat dikategorikan sebagai informasi yang menyesatkan.
SSF sendiri menyatakan menolak segala bentuk kekerasan dan aktivitas ilegal. Mereka menegaskan bahwa setiap anggota yang terlibat pelanggaran akan dikenakan sanksi, serta memastikan seluruh kegiatan dilakukan di tempat yang telah ditentukan dengan pengawasan internal.
Perdebatan soal konsep “seks sebagai olahraga” hingga kini masih menuai pro dan kontra di berbagai negara, terutama terkait aspek etika, regulasi, serta validitas kelembagaan organisasi yang mengusungnya.
(Anton)



















































