SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Deretan kaset CD dan DVD yang tersusun rapi di sebuah lapak kecil di pinggir jalan kini lebih sering berdebu ketimbang dibeli. Sesekali, ada pembeli datang. Itu pun bisa dihitung dengan jari dalam sehari.
Bagi Rahmat (47), pedagang CD/DVD yang sudah berjualan sejak awal 2000-an, situasi ini menjadi potret perubahan zaman yang tak terelakkan. Dulu, lapaknya selalu ramai diserbu pembeli yang mencari film terbaru, musik populer, hingga game bajakan.
“Dulu sehari bisa jual sampai ratusan keping. Sekarang? Kadang cuma laku lima sampai sepuluh saja,” ujarnya sambil merapikan tumpukan DVD yang mulai memudar sampulnya.
Pada masa kejayaan sekitar tahun 2005 hingga 2012, bisnis CD/DVD sempat menjadi ladang emas. Rahmat bahkan mengaku bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah per hari. Dari hasil itu, ia mampu menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya.
Namun, semuanya berubah sejak kehadiran smartphone dan layanan streaming digital. Film, musik, hingga serial kini bisa diakses dengan mudah melalui genggaman tangan, tanpa perlu membeli kepingan fisik.
“Sekarang orang tinggal klik, sudah bisa nonton. Tidak perlu beli kaset lagi,” katanya.
Perubahan tersebut membuat banyak pedagang CD/DVD gulung tikar. Lapak-lapak yang dulu berjajar di sepanjang trotoar kini satu per satu menghilang. Dari puluhan pedagang, kini hanya tersisa segelintir yang masih bertahan.
Rahmat memilih tetap berjualan, meski penghasilan jauh dari kata cukup. Dalam sehari, ia hanya bisa membawa pulang sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Itu pun jika sedang ada pembeli.
“Kadang lebih sering duduk saja, nunggu pembeli yang belum tentu datang,” ucapnya dengan senyum tipis.
Untuk menyiasati keadaan, ia mulai menambah dagangan lain seperti aksesori ponsel dan flashdisk. Namun, CD/DVD tetap ia pertahankan, bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
“Sudah puluhan tahun di sini. Rasanya sayang kalau ditinggalkan begitu saja,” katanya.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu tempat. Di berbagai daerah, nasib serupa dialami pedagang CD/DVD lainnya. Digitalisasi yang membawa kemudahan bagi konsumen, di sisi lain menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha konvensional.
Kini, CD dan DVD perlahan berubah fungsi—dari kebutuhan utama menjadi sekadar barang nostalgia. Pembelinya pun kebanyakan berasal dari kalangan tertentu, seperti kolektor atau masyarakat yang masih terbiasa menggunakan perangkat lama.
Meski masa depan bisnis ini semakin tidak pasti, Rahmat tetap membuka lapaknya setiap hari. Baginya, bertahan adalah pilihan yang paling realistis saat ini.
“Selama masih ada yang beli, walaupun sedikit, saya tetap jualan,” tutupnya.
Di tengah laju teknologi yang terus melaju cepat, kisah Rahmat menjadi pengingat bahwa setiap perubahan zaman selalu menyisakan cerita—tentang mereka yang harus berjuang lebih keras agar tetap bisa bertahan.
(Anton)




















































