SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Dunia dangdut lagi nggak baik-baik aja. Rhoma Irama angkat bicara soal royalti yang tiba-tiba anjlok drastis. Dari yang biasanya bisa tembus miliaran rupiah, sekarang cuma nyisa sekitar Rp25 juta.
Dalam keterangannya, Rhoma terang-terangan kaget dengan penurunan ini. Menurutnya, angka tersebut jauh banget dari kondisi sebelumnya yang bisa mencapai Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar.
“Yang biasanya Rp2 sekian miliar, Rp2,5 miliar, tiba-tiba cuma Rp25 juta. Ngebagiinnya gimana?” kata Rhoma.
Masalah makin kerasa karena jumlah anggota Anugerah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI) itu sekitar 300 orang. Kebayang dong, Rp25 juta dibagi ratusan orang—jatuhnya bukan kecil lagi, tapi nyaris nggak kerasa.
Rhoma juga menyoroti timing-nya yang bikin makin nyesek, karena kejadian ini muncul menjelang Lebaran. Padahal, banyak musisi yang berharap pemasukan tambahan buat kebutuhan mudik dan hari raya.
“300-an anggota, bayangin saja pembagiannya. Apalagi ini mau Lebaran, sangat menyedihkan,” lanjutnya.
Sorotan utama Rhoma langsung mengarah ke Lembaga Manajemen Kolektif Nasional. Ia menilai sistem baru yang diterapkan belum siap dan malah bikin bingung.
Menurutnya, perubahan sistem ini belum disosialisasikan dengan matang, sehingga banyak pelaku industri yang belum paham cara kerja maupun perhitungannya. Rhoma bahkan mengingatkan bahwa seharusnya tetap mengacu ke aturan lama dulu, yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
“Seharusnya sebelum pakai sistem baru, kita tetap pakai aturan yang lama dulu,” tegasnya.
Nggak cuma Rhoma, penyanyi dangdut Ikke Nurjanah juga ikut bersuara. Ia meminta adanya penjelasan yang lebih transparan, terutama soal data lagu yang dipakai sebagai dasar pembagian royalti.
Di lapangan, masalahnya ternyata cukup kompleks. Mulai dari perubahan sistem distribusi royalti yang sekarang berbasis data digital, sampai pendataan penggunaan lagu yang belum maksimal. Belum lagi isu keterlambatan pencairan royalti yang bikin situasi makin runyam.
Sebagai Ketua Umum ARDI, Rhoma nggak cuma ngomong. Ia juga turun langsung dengan memberikan bantuan pribadi sebesar Rp100 juta buat membantu para anggota yang terdampak.
“Ini bentuk empati saja. Saya kan pimpinan, jadi ya ikut prihatin,” ujarnya.
Kondisi ini langsung jadi perhatian banyak pihak. Banyak yang mulai mempertanyakan transparansi dan kesiapan sistem pengelolaan royalti di Indonesia. Kalau nggak segera dibenahi, bukan cuma dangdut yang kena dampaknya, tapi seluruh industri musik bisa ikut goyang.
Intinya sekarang jelas: musisi butuh kejelasan, bukan sekadar sistem baru. Karena kalau royalti terus “hilang arah”, yang ada bukan cuma lagu yang merdu, tapi juga nasib musisinya yang makin sendu.
(Anton)




















































