SUARAINDONEWS.COM, Denpasar — Ratusan pohon mangrove jenis Sonneratia alba (prapat), Rhizophora apiculata (bakau), dan Avicennia marina (api-api) ditemukan mati di kawasan sekitar Pelindo Benoa, tepatnya di tepi barat pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Denpasar Selatan.
Mangrove diketahui memiliki fungsi ekologis penting sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi, erosi, tsunami, dan intrusi air laut. Ekosistem ini juga berperan dalam menyerap karbon dioksida serta menopang ekonomi masyarakat pesisir melalui sektor perikanan dan ekowisata.
Temuan tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali I, Nyoman Parta. Politikus PDI Perjuangan itu mengaku terkejut saat melihat langsung kondisi mangrove yang mengering ketika melintas di Tol Bali Mandara sepulang dari Jakarta.
Parta kemudian menghentikan kendaraannya dan melakukan peninjauan langsung ke area pesisir bersama nelayan setempat, komunitas Mangrove Ranger, serta kelompok nelayan Simbar Segara.
Dari pendalaman awal, Parta menduga kematian mangrove tidak disebabkan faktor alami. Ia menyebut adanya dugaan kebocoran pipa bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina sebagai salah satu kemungkinan penyebab.
Dugaan tersebut, menurut Parta, berkaitan dengan adanya kegiatan pemeliharaan atau perbaikan jalur distribusi BBM dari Pelabuhan Benoa menuju fasilitas Pertamina di Pesanggaran sekitar November 2025. Pada periode yang sama, komunitas pemerhati mangrove mencatat gejala layu pada tanaman di lokasi tersebut.
“Saya curiga ini matinya tidak faktor alami. Memang perlu dibuktikan, tapi berdasarkan informasi awal ada kebocoran pipa milik Pertamina atau perusahaan yang ada di sini,” kata Parta kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Minggu (22/2/2026).
Jumlah mangrove yang mati diperkirakan antara 200 hingga 300 pohon. Berdasarkan kondisi ranting yang kering, kematian tanaman diduga telah berlangsung cukup lama.
Parta meminta sejumlah pihak yang memiliki aktivitas di kawasan tersebut, antara lain Tahura, Pelindo, Jasa Marga, Pertamina, dan Indonesia Power, untuk memberikan penjelasan dan bertanggung jawab apabila terbukti terjadi kelalaian.
Ia juga mendesak aparat penegak hukum, termasuk Polda Bali dan Kejaksaan Tinggi Bali, untuk mengusut tuntas dugaan tersebut.
“Ini pohon mangrove di pinggir jalan yang bisa dilihat oleh semua orang, masa dibuat mati tanpa pertanggungjawaban,” ujar Parta.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina maupun pengelola kawasan terkait dugaan kebocoran pipa BBM tersebut.
(Anton)




















































