SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Pemerintah Indonesia terus memperkuat posisi di perdagangan internasional di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis. Lewat diplomasi ekonomi yang aktif, pemerintah berupaya menjaga kepentingan nasional, membuka pasar baru, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam dialog bersama media di Jakarta, Jumat (26/12). Ia mengungkapkan bahwa hubungan dagang Indonesia dengan Amerika Serikat menunjukkan perkembangan positif.
Menurut Airlangga, pembahasan dengan Amerika Serikat mencakup berbagai sektor strategis, termasuk akses terhadap mineral kritis. Pemerintah Indonesia telah membuka ruang kerja sama di sektor ini, dan sejumlah perusahaan Amerika Serikat juga telah menjalin komunikasi dengan perusahaan mineral di Indonesia. Akses terhadap mineral strategis tersebut disediakan pemerintah untuk mendukung kerja sama yang saling menguntungkan.
Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Indonesia dan United States Trade Representative (USTR) telah menyepakati seluruh substansi utama dan teknis dalam dokumen Agreements on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan ini dirumuskan dengan prinsip keseimbangan kepentingan kedua negara.
Melalui perjanjian tersebut, Amerika Serikat memberikan pengecualian tarif terhadap sejumlah produk unggulan Indonesia. Komoditas yang mendapatkan fasilitas ini antara lain minyak sawit mentah (CPO), kopi, teh, kakao, serta berbagai produk manufaktur padat karya. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga daya saing produk Indonesia sekaligus memberi kepastian bagi pelaku usaha nasional.
Selain tarif, kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat juga mencakup pembahasan lintas sektor. Airlangga menegaskan bahwa kolaborasi di bidang mineral bukan hal baru, mengingat perusahaan Amerika telah lama berinvestasi di Indonesia, termasuk Freeport yang beroperasi sejak 1967.
Saat ini, dokumen ART telah memasuki tahap pemeriksaan hukum dan finalisasi. Pemerintah menargetkan penandatanganan perjanjian tersebut oleh Presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat dapat dilakukan sebelum akhir Januari 2026.
Di sisi lain, Indonesia juga aktif membuka pasar baru melalui kerja sama dengan negara-negara non-tradisional. Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA) pada 21 Desember 2025.
Perjanjian ini membuka akses pasar ke kawasan Eurasia yang mencakup Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Belarus, dan Armenia. Kawasan tersebut memiliki jumlah penduduk hampir 180 juta jiwa dengan total Produk Domestik Bruto sekitar USD2,56 triliun. Lebih dari 95 persen nilai perdagangan dalam perjanjian ini mendapatkan preferensi tarif, dengan rata-rata bea masuk mendekati nol persen.
Melalui kerja sama ini, Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor berbagai produk unggulan seperti CPO dan turunannya, alas kaki, kopi, kakao, tekstil, produk perikanan, hingga jasa berbasis digital dan ekonomi kreatif. Perjanjian tersebut juga diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 2,36 persen serta memperkuat daya saing produk bernilai tambah.
Untuk mempercepat pemanfaatan perjanjian dagang, pemerintah mendorong pembentukan business council dan penyelenggaraan business forum bersama negara mitra. Langkah ini bertujuan mempertemukan langsung pelaku usaha agar kerja sama perdagangan bisa berjalan tanpa harus menunggu proses ratifikasi selesai.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara penguatan ekonomi dalam negeri dan pembukaan akses pasar global. Dengan semakin luasnya jaringan perjanjian dagang, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan ekspor, membuka peluang usaha termasuk bagi UMKM, serta menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Airlangga menutup dengan menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menjaga daya beli masyarakat dalam negeri, tetapi juga membuka pasar luar negeri yang lebih luas. Dengan bea masuk yang semakin rendah, bahkan mendekati nol, pelaku usaha Indonesia, termasuk UMKM, memiliki peluang besar untuk bersaing dan menembus pasar global.
(Anton)




















































