SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Serangan udara Israel pada Rabu (28/5) pagi waktu setempat menghantam Bandara Internasional Sana’a, Yaman. Serangan itu menghancurkan satu-satunya pesawat sipil milik Yemenia Airways yang dijadwalkan menerbangkan jemaah haji ke Makkah. Akibatnya, penerbangan dibatalkan dan puluhan calon jemaah haji gagal berangkat.
Pesawat yang hancur adalah jenis Airbus A320. Maskapai Yemenia Airways sebelumnya merencanakan dua penerbangan per hari selama sembilan hari ke depan untuk mengangkut jemaah haji asal Yaman. Namun, sebelum pesawat sempat digunakan, rudal Israel menghantam landasan bandara dan menghancurkan badan pesawat. Yang tersisa hanyalah bagian ekor.
“Ini serangan terhadap kemanusiaan”
Direktur Bandara Sana’a menyebut serangan itu sebagai tindakan yang menargetkan fasilitas kemanusiaan secara langsung.
“Ini bukan hanya soal pesawat. Ini serangan terhadap jalur kemanusiaan dan pelanggaran terhadap fasilitas sipil,” ujar Direktur Bandara, seperti dikutip media lokal.
Yemenia Airways pun langsung mengumumkan penangguhan semua penerbangan dari dan menuju Sana’a. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa, tetapi kerugian materil cukup besar, termasuk barang-barang bawaan jemaah yang ikut terbakar.
Latar Belakang Konflik
Serangan ini bukan insiden pertama yang melibatkan Yaman dan Israel dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa hari sebelumnya, kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran meluncurkan rudal balistik yang menargetkan Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan ke Bandara Sana’a adalah bentuk respons atas ancaman militer dari wilayah Yaman. Mereka mengklaim Bandara Sana’a digunakan oleh milisi Houthi untuk menyimpan dan meluncurkan senjata.
“Kami hanya menargetkan infrastruktur militer yang digunakan oleh Houthi. Sana’a bukan wilayah sipil yang netral saat ini,” ujar pernyataan resmi militer Israel.
Namun, banyak pihak mengecam tindakan tersebut karena berdampak langsung pada kegiatan sipil, terutama ibadah haji yang seharusnya bebas dari konflik politik dan militer.
Konflik Gaza dan Efek Domino
Sejak eskalasi besar-besaran di Jalur Gaza meletus pada akhir 2023, konflik bersenjata antara Israel dan pihak-pihak yang pro-Palestina, termasuk Houthi di Yaman, terus meluas.
Berdasarkan laporan terbaru dari organisasi kemanusiaan internasional, selama 601 hari konflik berlangsung, lebih dari 53.900 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 16.000 anak-anak.
Dampak Langsung ke Jemaah dan Misi Kemanusiaan
Kehancuran pesawat haji di Sana’a mencerminkan dampak nyata dari konflik geopolitik terhadap urusan kemanusiaan dan keagamaan. Banyak warga Yaman yang sudah mempersiapkan ibadah haji harus menerima kenyataan pahit bahwa mereka tidak bisa berangkat.
“Ini bukan hanya soal gagal naik haji. Ini soal bagaimana konflik mengorbankan hak-hak sipil dan keagamaan masyarakat,” tulis laporan Yemen Observer.
Kesimpulan: Seruan Internasional Diperlukan
Serangan ke Bandara Sana’a dan kehancuran pesawat haji menjadi sinyal kuat bahwa konflik di Timur Tengah bukan hanya soal politik dan militer, tetapi juga menyentuh langsung urusan ibadah, kemanusiaan, dan kehidupan sipil.
Masyarakat internasional, termasuk organisasi seperti PBB dan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), didesak untuk segera turun tangan agar konflik tidak semakin menjauhkan hak-hak dasar, termasuk hak beribadah, dari tangan warga sipil yang tak bersalah.
(Anton)




















































