SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Kebijakan unik datang dari sebuah perusahaan kertas di China. Guangdong Dongpo Paper yang berbasis di Provinsi Guangdong memberikan bonus tambahan kepada karyawan yang rutin berolahraga, khususnya lari setiap bulan.
Perusahaan tersebut mengganti sistem bonus akhir tahun berbasis kinerja menjadi bonus berbasis aktivitas fisik. Tujuannya untuk menjaga kesehatan karyawan sekaligus meningkatkan produktivitas kerja dalam jangka panjang.
Dalam aturan yang diterapkan, karyawan yang mampu berlari 30 kilometer per bulan mendapat bonus sekitar 30 persen. Jika mencapai 40 kilometer, bonus naik menjadi 60 persen. Sementara karyawan yang berlari 50 kilometer mendapatkan bonus setara satu bulan gaji.
Menariknya, perusahaan juga memberikan tambahan bonus bagi karyawan yang mampu berlari hingga 100 kilometer dalam sebulan. Jika target tersebut tercapai, total bonus yang diterima bisa mencapai 130 persen dari gaji bulanan.
Untuk memastikan keakuratan, jarak tempuh lari karyawan dipantau menggunakan aplikasi di ponsel. Sistem ini digunakan untuk memverifikasi aktivitas olahraga yang dilakukan setiap peserta program.
Kebijakan ini menuai beragam tanggapan. Sebagian menilai langkah tersebut positif karena mendorong gaya hidup sehat di lingkungan kerja. Selain itu, karyawan juga mendapat insentif tambahan yang cukup besar.
Namun di sisi lain, ada yang menilai target lari hingga 100 kilometer per bulan cukup berat, terutama bagi karyawan dengan jadwal padat atau kondisi fisik tertentu. Risiko cedera juga menjadi perhatian jika aktivitas olahraga dilakukan secara berlebihan demi mengejar bonus.
Jika diterapkan di Indonesia, kebijakan seperti ini dinilai bisa menarik, tetapi perlu penyesuaian. Kondisi pekerjaan, waktu kerja, serta tingkat kebugaran karyawan di Indonesia cukup beragam. Program serupa mungkin lebih efektif jika dibuat fleksibel, misalnya tidak hanya lari, tetapi juga jalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan lainnya.
Pendekatan tersebut dinilai lebih realistis agar tujuan menjaga kesehatan tetap tercapai tanpa membebani karyawan. Meski begitu, kebijakan dari China ini menunjukkan tren baru bahwa perusahaan mulai melihat kesehatan karyawan sebagai investasi penting untuk meningkatkan produktivitas kerja.
(Anton)




















































