SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Ketika konflik geopolitik di Timur Tengah memanas dan dunia kembali menahan napas, logam mulia yang biasanya tampil gagah sebagai “tempat berlindung terakhir” justru terlihat sedikit… kelelahan. Harga emas dunia sepanjang pekan ini malah tergelincir hampir 3%, membuat banyak investor mengernyitkan dahi.
Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan Jumat (13/3/2026), harga emas spot dunia berada di kisaran US$5.018,43 per troy ons, turun 1,19% dibanding hari sebelumnya. Secara mingguan, performanya bahkan merosot sekitar 2,93%. Singkatnya, di saat konflik memanas, emas malah tampak seperti atlet yang tiba-tiba kehilangan napas di garis start.
Fenomena ini juga terlihat di berbagai pasar global. Di India misalnya, harga emas dan perak mengalami tekanan jual tajam sepanjang minggu. Setelah penutupan perdagangan 14 Maret, kontrak emas MCX turun hingga berada di bawah Rs 1,60 lakh per 10 gram, sementara perak MCX juga melemah sekitar 1%. Harga emas spot global bahkan sempat turun lebih dari 1% dan berjuang mempertahankan level psikologis US$5.050 per ons. Sementara itu, perak spot juga ikut terseret, anjlok sekitar 4% ke kisaran US$80,5 per ons.
Ironisnya, penyebab utama pelemahan logam mulia ini justru datang dari “teman lama” emas: dolar Amerika Serikat. Ketika konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran global—termasuk gelombang serangan besar terhadap target Iran serta penutupan efektif Selat Hormuz—investor justru berbondong-bondong mencari likuiditas dalam bentuk dolar AS.
Akibatnya, indeks dolar menguat. Dan seperti biasa, setiap kali dolar tampil terlalu perkasa, emas biasanya langsung terlihat seperti aktor pendukung yang kehilangan sorotan.
Situasi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah yang melampaui US$100 per barel. Lonjakan energi memicu kekhawatiran inflasi baru, sehingga ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, mulai memudar.
Dengan suku bunga yang diperkirakan tetap tinggi lebih lama, investor pun mulai melirik aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi. Sementara emas—yang terkenal tidak memberikan bunga—mendadak terasa kurang menarik.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar juga terpaksa menjual emas untuk menutup margin call atau sekadar mengumpulkan uang tunai di tengah volatilitas pasar. Alhasil, meskipun konflik Timur Tengah terus berlangsung, logam mulia justru mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Tekanan harga juga terlihat jelas di pasar India. Pada 14 Maret, harga emas turun untuk hari ketiga berturut-turut. Untuk emas 18 karat, harga 10 gram turun sekitar Rs 780 menjadi Rs 1,19,740, sementara emas 100 gram turun Rs 7.800 menjadi Rs 11,97,400.
Sementara itu untuk emas 22 karat, harga 10 gram turun Rs 950 menjadi Rs 1,46,350, dan emas 100 gram turun Rs 9.500 menjadi Rs 14,63,500.
Penurunan juga terjadi pada emas 24 karat, di mana harga 10 gram merosot Rs 1.030 menjadi Rs 1,59,660, sedangkan harga 100 gram turun Rs 10.300 menjadi Rs 15,96,600.
Tak hanya emas, pasar perak juga ikut “ikut-ikutan panik.” Kontrak perak MCX untuk pengiriman Mei 2026 turun sekitar 3,24% atau Rs 8.683, menutup perdagangan di kisaran Rs 2,59,279 per kilogram. Bahkan selama sesi perdagangan Jumat, harga sempat menyentuh level intraday sekitar Rs 2,54,474 per kilogram.
Para analis kini menaruh perhatian pada pertemuan kebijakan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan minggu depan. Sikap bank sentral terhadap inflasi dan kemungkinan pemangkasan suku bunga diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah harga emas selanjutnya.
Secara teknikal, analis pasar menilai harga emas MCX memiliki area dukungan di sekitar ₹1,58,000, sementara level resistensi berada di kisaran ₹1,61,500, membuat pasar berada dalam kondisi volatil namun masih bergerak dalam rentang tertentu.
Dengan kata lain, pasar emas saat ini sedang berada dalam situasi yang agak konyol: dunia lagi tegang karena konflik geopolitik, minyak melonjak, dolar menguat, dan emas—yang biasanya jadi bintang saat krisis—justru tampak seperti aktor yang sedikit kehilangan panggung.
Bagi investor, drama ini mungkin hanya satu bab dari cerita panjang pasar komoditas global. Karena dalam dunia keuangan, bahkan aset “paling aman” pun kadang bisa ikut terbawa arus… dan sesekali terlihat seperti sedang bad mood.
(Anton)




















































