SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Perak kini menjadi sorotan pasar global dan domestik. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai “emas versi murah” itu mulai mengalami kelangkaan pasokan, seiring lonjakan permintaan industri dan investasi yang tidak diimbangi produksi.
Di pasar internasional, harga perak terus bergerak naik dan mendekati level tertinggi dalam sejarah. Sejumlah laporan pasar global mencatat stok perak fisik di berbagai bursa utama dunia menyusut tajam. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan logam tersebut.
Permintaan perak meningkat signifikan dari sektor industri, terutama untuk kebutuhan panel surya, kendaraan listrik, elektronik, hingga teknologi kecerdasan buatan. Perak memiliki sifat konduktivitas tinggi yang membuatnya sulit tergantikan dalam banyak aplikasi teknologi modern.
Selain kebutuhan industri, minat investor juga melonjak. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perak kembali dilirik sebagai aset lindung nilai. Lonjakan pembelian perak fisik oleh investor ritel di berbagai negara membuat pasokan di tingkat dealer dan pedagang semakin terbatas.
Beberapa negara konsumen besar seperti India dilaporkan mengalami kesulitan pasokan perak fisik. Harga di pasar lokal bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah akibat tingginya permintaan dan terbatasnya impor. Kondisi serupa juga mulai terasa di sejumlah pasar Asia dan Eropa.
Di bursa komoditas dunia, muncul sinyal yang disebut sebagai “silver squeeze”, yaitu situasi ketika permintaan pengiriman perak fisik meningkat sementara stok yang tersedia semakin menipis. Fenomena ini berpotensi mendorong volatilitas harga yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
Sementara itu di dalam negeri, pergerakan harga perak ikut terdampak tren global. Pedagang logam mulia menyebut pasokan perak batangan dan perhiasan tertentu mulai terbatas, terutama untuk ukuran dan kadar tertentu. Meski belum terjadi kelangkaan ekstrem, pasar mulai merasakan tekanan suplai.
Para analis menilai kondisi ini tidak bersifat sementara. Produksi tambang perak global dinilai sulit meningkat cepat karena sebagian besar perak merupakan hasil sampingan dari tambang logam lain seperti tembaga dan seng. Artinya, kenaikan permintaan tidak bisa langsung diimbangi lonjakan produksi.
Dengan kombinasi permintaan industri yang terus tumbuh, minat investasi yang menguat, dan pasokan yang ketat, perak diperkirakan akan tetap berada dalam fase sensitif. Situasi ini membuat perak tidak lagi sekadar logam pelengkap, tetapi menjadi komoditas strategis dalam peta ekonomi dan teknologi dunia.
(Anton)




















































