SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Pemerintah mulai melirik Papua sebagai senjata baru untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM). Wilayah timur Indonesia ini disiapkan menjadi basis utama bahan baku bioetanol, dengan target produksi mencapai 300.000 kiloliter (KL) per tahun.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa rencana pengembangan bioetanol di Papua masih berada pada tahap awal, khususnya dari sisi penyediaan bahan baku.
“Targetnya memang 300.000 kiloliter per tahun. Tapi saat ini masih tahap pembibitan dan perluasan bahan baku, jadi masih cukup panjang jalannya,” ujar Eniya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jumat (30/1/2026).
Tak Mau Bergantung Impor, Pemerintah Putar Arah ke Daerah
Tak hanya Papua, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol di luar Pulau Jawa. Alasannya sederhana: jika produksi terpusat, biaya logistik akan membengkak dan justru tidak efisien.
“Sekarang kami sedang mengatur pentahapan agar produksi dilakukan di daerah yang memang punya sumber bahan bakunya. Mandatorinya juga diarahkan ke wilayah tersebut,” jelas Eniya.
Strategi ini diharapkan mampu memangkas biaya distribusi sekaligus membuka pusat-pusat ekonomi baru di daerah.
Bahan Baku Wajib Lokal, Impor Ditutup Rapat
Pemerintah menegaskan bahwa bahan baku bioetanol wajib berasal dari dalam negeri. Impor bahan baku tidak diperbolehkan sesuai regulasi yang berlaku.
Saat ini, molases atau tetes tebu menjadi bahan baku utama bioetanol yang tersedia secara nasional. Namun, pemerintah membuka peluang penggunaan bahan baku lain selama berasal dari sumber lokal.
“Harus lokal. Saat ini yang tersedia adalah molases tebu, nanti kita evaluasi lagi dari sisi harga dan sumber bahan bakunya,” tegas Eniya.
Bukan Sekadar BBM, Tapi Strategi Energi Jangka Panjang
Pengembangan bioetanol tidak hanya ditujukan untuk mengurangi impor BBM, tetapi juga menjadi bagian dari transisi energi dan upaya menekan emisi karbon di sektor transportasi. Campuran etanol dalam bensin diketahui mampu meningkatkan angka oktan dan kualitas pembakaran.
Dengan potensi lahan yang luas dan sumber daya alam yang besar, Papua digadang-gadang menjadi pemain kunci dalam peta energi baru terbarukan Indonesia ke depan. Meski masih dalam tahap awal, proyek ini diproyeksikan menjadi fondasi penting menuju kemandirian energi nasional.
(Anton)




















































