SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Dunia pertambangan lagi-lagi menunjukkan bahwa realita kadang lebih liar daripada sinetron. Pemerintah Indonesia baru saja mengungkap fenomena absurd: ada negara yang tercatat sebagai pengekspor timah besar, padahal… mereka bahkan nggak punya tambang timah. Sama sekali. Nol. Kosong.
Ibarat tidak punya dapur, tapi jualan nasi goreng keliling dunia.
Pengungkapan itu disampaikan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dalam kuliah umum di Makassar (9/12/2025). Dalam paparannya, ia menyebut bahwa sekitar 80% timah Indonesia selama puluhan tahun keluar negeri tanpa bayar pajak. Dan dari situlah muncul negara-negara yang tiba-tiba tampil “glowing” sebagai eksportir timah, padahal tidak punya sebutir pun logam itu di tanahnya.
“Kita temukan negara yang ekspor timah besar, padahal mereka tidak menambang timah. Kok bisa? Ya karena timah kita sampai ke mereka sebelum sempat tercatat,” kata Sjafrie.
Dalam versi warganet, ini setara dengan: “Loh kok dia yang dapet credit, padahal aku yang kerja?”
Drama Timah Global: Pasokan Seret, Harga Meledak
Sementara itu, pasar timah dunia juga lagi banyak drama:
- Indonesia sibuk merapikan rumah: menutup smelter ilegal yang sudah merugikan negara sampai ratusan triliun rupiah.
- Myanmar belum pulih dari mandeknya tambang besar di Wa State.
- China sedang menyesuaikan ulang impor dan ekspor timah olahan.
Hasilnya? Harga timah global sempat naik ke level tertinggi enam bulan terakhir. Bukan naik pelan-pelan—tapi seperti habis disemangati motivator.
Upaya Indonesia: Bersih-Bersih Industri Timah
Pemerintah Indonesia lagi mode serious. Smelter ilegal disikat, pasokan ilegal disergap, pengawasan diperketat. Tujuannya jelas:
supaya timah Indonesia tidak lagi “nyasar” ke negara lain dan muncul di data ekspor mereka sebagai harta karun dadakan.
Dengan tata kelola yang lebih rapi, harapannya statistik global tidak lagi menampilkan negara tanpa tambang sebagai “Raja Timah”, sementara Indonesia jadi cameo.
Kok Bisa Negara Tanpa Tambang Jadi Eksportir?
Fenomenanya mirip siasat belanja online:
- Re-export – Belinya dari negara lain, kirim ulang, lalu klaim “barang kami”.
- Diproses dulu, diklaim kemudian – Timah dari luar masuk, diperlakukan sebentar, lalu dijual lagi seperti barang lokal.
- Transit tapi dianggap ekspor – Barang cuma lewat tapi statistiknya langsung centang.
Secara resmi sah-sah saja, secara moral… yah, tergantung siapa yang ditanya.
Penutup: Timah, Komoditas Serius dengan Plot Twist Komikal
Kasus ini menunjukkan satu hal: rantai pasok timah global bisa lebih rumit daripada hubungan situasi percintaan di drama Korea. Indonesia sekarang sedang memperbaiki sistem agar pemasukan negara tidak lagi bocor dan timah tidak lagi “menginap” di negara lain lalu mendadak dipajang sebagai hasil bumi mereka.
Jika tata kelola membaik, dunia mungkin tak perlu lagi bertanya-tanya:
“Kok bisa ekspor timah… tapi nggak punya tambang?”
(Anton)




















































